Rabu, 04 Desember 2013

Pergelaran Sendratari "SURYA MAJAPAHIT"


HADIR dan SAKSIKANLAH:

Pergelaran Sendratari
"SURYA MAJAPAHIT"
 
 
 
Koreografer : Sunawan

Hari/ Tanggal : Sabtu, 14 Desember 2013
Pukul: 19.00 Wib - selesai
Tempat: Lapangan Bubat, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto

Penyelenggara:
- Disporabudpar Kab. Mojokerto
- Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto


GRATIS dan TERBUKA UNTUK UMUM

-------

A. KONSEP GARAP ISI

Sejak kepemimpinan Raden Wijaya, cita-cita mempersatukan nusantara telah dirintis, Namun perjuangannya kandas tatkala terjadi pemberontakan di dalam kalangan keluarga keraton, sampai mengakibatkan gugurnya Sangnata.

Seisi keraton Majapahit bertabur kesedihan dan kepiluan. Pergolakan politik adu domba beradu perebutan kekuasaan,merasa berjasa atas nama Majapahit. Sebagai dalih untuk merobohkan kekuasan Sang Raja Jayanegara.

Kerajaan Majapahit mengalami kekacauan. Penderitaan rakyat pun bertambah parah ketika Seni dan Kuti sampai menduduki tahta Majapahit, sang Raja Jayanegara diselamatkan oleh pasukan Bhayangkara yang dipimpin oleh Gajah Mada. Jayanegara beserta pengikutnya di bawah pengawalan Gajah Mada mengungsi ke Bedander. Raja sehari pun disandang oleh Rakuti. Berbekal jiwa yang perwira, tangguh dan ketegasan sikap, serta disiplin, Kuti dan Seni pun ditumpas.

Kelicikan prajurit Dharma Putra pun berhasil membunuh Jayanegara. Duka pun menyelimuti Majapahit. Tribhuana Tungga Dewi pun di angkat menjadi Raja Majapahit dengan gelar “TRIBHUWANA TUNGGA DEWI MAHA RAJA JAYA WISNU WARDHANI”. Bersama sang Mahapatih Gajah Mada, berhasil menumpas pemberontakan Sadeng. Dengan berbekal jiwa prajurit dan maritim yang tinggi, sang raja pun memperluas wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa.



B. PETUNJUK KOREOGRAFI

Judul : Sendratari “Surya Majapahit“
Tema Garapan : Perjuangan Hidup ( Menggambarkan Perjalanan Tribhuana Tungga Dewi Maha Raja Wisnu Wardhani).
Bentuk Penyajian : Tari Kelompok
Berbentuk Drama Tari (Tari Kelompok Beralurkan Dramatik yang terdiri dari berbagai unsur tari, teater, musik)
Tipe Tari : Murni / Study

Sumber Materi Gerak “Study”: Keragaman bentuk dan Repertoar Jawa Timur sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai ide garap, Merujuk pada repertoar Malang, Madura, Banyuwangi, Surabaya , sebagai sumber penggarapan dengan tetap . mempertimbangkan kebutuhan karakter dan tipologi melalui pendekatan gerak yang sudah ada tersebut dan disusun melalui ide berdasarkan tafsir gerak serta mempertimbangkan garap greget dan juga ekspresi gerak dalam setiap ungkapan sehingga dapat mendapatkan kesan estetik.

-----------

* Foto tari diambil dari album foto Festival Majapahit Internasional milik Arief Budi (Gopar)

Selasa, 26 Juni 2012

KENDURI TEATER JOMBANG 
(30 Juni - 5 Juli 2012)



Mempersembahkan Pementasan Kelompok Teater Jombang

30 Juni 2012
KOMUNITAS SUKET INDONESIA

Pementasan “PET” (Diluar Masih Gelap)
Karya Andhi Kephix
Sutradara Andhi Kephix
Pukul 19.30 WIB

2 & 3 Juli 2012
KOMUNITAS TOMBO ATI JOMBANG

Pementasan “Beruang Menagih Hutang” (The Bear)
Karya Anton Pavlovich Chekhov
Sutradara Alfi Rizqoh
Pukul 19.30 WIB

4 & 5 Juli 2012
KELOMPOK ALIEF MOJOAGUNG

Pementasan Surya Terbenam Pagi—“Bapak, Pukullah Saya !”
Karya M.S. Nugroho
Sutradara M.S. Nugroho
Pukul 19.30 WIB

Tempat:
Gedung “Graha Besut” Suara Jombang
Jalan Pattimura No. 92 Jombang



Tiket Box:
Rp. 7.500; (1 pertunjukan) atau Rp. 15.000; (3 pertunjukan)

Contact Person:
Anton Wahyudi (085646230330)
Nanda Sukmana (081330751718)

Senin, 04 Juni 2012

Akar Historis Sastra Ludruk | ESAI RUANG PUTIH | JAWA POS | MINGGU: 3 JUNI 2012

:: Akar Historis Sastra Ludruk ::

Oleh : Fahrudin Nasrulloh*


...
Jangkrik upo
Jangkrik upo
Rupaku ganteng
Irungku ombo
(syair Cak Njoto)

Gagasan ihwal “sastra ludruk” mulanya mencoba mengungkai perkara di luar teks, pada ekspresi kehidupan orang-orang ludruk, pada tradisi oral yang membentuk komunitas kesenian yang berpijak pada daya cipta seni rakyat demi pengukuhan eksistensi rakyat itu sendiri dalam ruang sosialnya. “Bentuk dan isi” di dalamnya semisal pada parikan (syair rakyat di jalanan) yang hakikatnya adalah sebuah daya-budi untuk memaknai eksistensi dan historisitas mereka. Dari sinilah sejarah kesenian (ludruk) coba ditembus untuk pembacaan kembali dimensi sosial dan interaksi-interaksinya.

Sebagai cermin bandingan, karya-karya realisme magis di Amerika Selatan di abad 20 lahir dan berikhtiar membangkitkan eksistensi historis mereka. Bahwa ada “kenyataan ajaib” di dalam kesejarahan yang mereka miliki sebagai sumur imaji literer yang tiada habisnya. Dari sanalah tersimpan “suara lain” yang memberi warna bagi kesusastraan dunia. “Kenyataan ajaib” atau “lo real marafilloso” dalam istilah novelis Kuba, Alejo Carpentier, merasuki dan membangkitkan kesusastraan Amerika Selatan pada dasawarsa 30-an, dengan munculnya tiga pengarang: Alejo Carpentier, Miguel Angel Asturias, dan Jorge Luis Borges. Pandangan ini selanjutnya bergentayangan dan menghantui karya-karya realisme magis. Bagi Carpenteir, sejarah adalah suatu pencarian terhadap firdaus yang hilang, demi penebusan suatu identitas asali untuk masa depan.

Jika Amerika Selatan membangun sejarahnya dengan mitologi di medan keberkaryaan, yang serentak juga membongkar akar-akar yang terbenam di masa silam mereka, maka dunia ludruk yang lahir di Jombang pada kisaran 1900-an tak menghadirkan apa pun sebagai tilas selain semacam cerita-cerita penggalan: rombongan ngamen yang terdiri dari satu-dua atau lebih yang dimulai oleh Pak Santik, Pak Gangsar, Pak Pono dan Pak Amir yang berkeliling dari kampung ke kampung. Kini, ketika keberadaan ludruk terseok-seok di tepi modernitas dan sementara pola kehidupan kapitalistik-konsumeristik kian menumpulkan kesadaran berbangsa akan kebudayaannya dalam konteks Indonesia yang masih “terus menjadi” (istilah Y.B. Mangunwijaya), terlihat bahwa historisitas ludruk belumlah menjadi kesadaran kritis untuk memberi arti secara luas bagi khasanah kebudayaan bangsa.

Kita tahu bahwa kesusastraan merupakan wilayah eksperiman yang paling bebas di dalam bahasa. Maka lahirlah sastra fantasi, di mana teologi dan filsafat hanyalah cabang darinya, sebagaimana yang kerap diulas oleh kritikus Nirwan Dewanto dan Hasif Amini. Bagi mereka, ciri utama sastra fantasi sebenarnya mempersoalkan dan melakukan subversi terhadap apa yang disebut realitas, visi monologis, dan cara tunggal dalam mempersepsikan dunia. Dunia seakan ditafsiri kembali, digodok ulang kembali.

Sementara teologi, sejarah, alam supranatural, bahkan sejarah Tuhan dan penciptaan-Nya, jadi bumbu penyedap yang diproyeksikan semagis mungkin. Di abad 20 teks sastra fantasi kian berwatak non-referensial, dunia nyata “di luar teks” menjadi pertaruhan. Memulai ke sebentang arah: pencarian otonomi fiksional sebuah narasi. Sebuah sikap kosmopolitan yang ringan hati. Di Jawa Timur misalnya, karya-karya Suparto Brata yang berbahasa Jawa kendati kerap dicibir sebagian orang hanyalah karya si “tukang ketik” tanpa bobot, justru menjadi api spirit bagi sastra daerah di waktu mendatang.

Cerita daerah ataupun fiksi yang lahir dari lokal jenius merupakan salah satu kekuatan penyangga bagi identitas lokal yang musti dipertahankan. Karena sejarah itu bangkit bersamanya, suatu upaya menemukan kembali diri “manusia” lampau. Dalam sejarah China klasik hal itu dibuktikan dengan upaya pendokumentasian fiksi dan sejarah lokal yang telah berkembang bahkan sejak ratusan abad sebelum Masehi. Shuhui Yang dalam buku Kumpulan Kisah Klasik Dinasti Ming: Kisah Belut Emas. Dikompilasi oleh Feng Menglon (1574-1646), diterjemahkan oleh Shuhui Yang dan Yunquin. (PT. Gramedia Pustama Utama, 2007, Jakarta) menyebutkan bahwa: “Salah satu ciri yang paling menarik dalam fiksi daerah China adalah ‘retorika penutur cerita’. Ini adalah bagian yang disebut Patrick Hanan sebagai ‘keadaan yang ditiru’ atau ‘keadaan sepotong fiksi ditularkan’. Dalam cerita-cerita Sanyan (juga di dalam fiksi daerah China lainnya), tiruan ini hampir selalu mengambil bentuk seorang penutur cerita lisan profesional yang menyapa pendengarnya. Sang penutur cerita bertanya kepada pendengar yang ditiru, bercakap-cakap dengan mereka, membuat keterangan yang jelas untuk cerita-ceritanya, dan menyelingi ceritanya dengan syair dan puisi. Biasanya sang penutur memulai ceritanya dengan satu atau lebih cerita pendahuluan atau puisi, yang bertujuan menyediakan waktu bagi para pendengarnya untuk berkumpul kemudian ia mempertunjukkan penampilan utamanya.”

Jika kita andaikan Pak Santik, atau Cak Markeso, adalah sosok seniman yang sekaligus memiliki kualitas entelektual sebagaimana Feng Menglon, tentu, sejarah ludruk akan mampu berkembang lebih sophisticated. Karangan yang berupa catatan-catatan cerita dan kompilasi-kompilasi sejarah di daratan China sungguh banyak mendapatkan pujian dan menyumbangkan warisan tak ternilai bagi kesejarahan China dalam membentuk watak peradaban manusianya. Salah satu karangan Feng adalah tiga buku pegangan konfusian berjudul Kronik Musim Semi dan Gugur. Hingga karena banyaknya buku yang disusunnya, karya-karya itu seolah-olah jika “ditumpuk sampai setinggi tubuhnya.” Feng adalah seorang patriot, si cabul yang jenaka, intelektual, pecinta yang romantis, orang yang hidup bebas, dan memiliki integritas yang tinggi dalam pengabdiannya pada kerajaan. Sebagian besar cendekiawan modern tak meragukan sumbangan Feng Menglon dalam kesusastraan daerah atau sastra rakyat, terutama pengumpulan dan penyuntingannya pada 120 cerita pendek yang terkumpul dalam buku babon Sanyan.

Aliran ini kemudian disebut Huaben yang berkembang pada Dinasti Song (960-1279) dan Dinasti Yuan (1260-1368) dan mencapai kematangannya pada akhir masa Dinasti Ming (1368-1644). Feng meyakini cerita daerah menjadi satu-satunya tonggak dalam melestarikan sejarah untuk masa depan sebuah kerajaan yang mencita-citakan kejayaan dan kemasyhuran. Apa yang disebut “proomt-book” adalah cerita yang berkembang di “pasar” pada Dinasti Song. Dan hal ini pula yang tak jauh dari pementasan-pementasan ludruk yang menyoal kehidupan sehari-hari rakyat jelata baik di pasar, di sawah saat petani menggarap sawahnya, di dalam rumah tangga, dan lain-lain. Cak Supali, pelawak ludruk dari Mojokerto, mengatakan bahwa ketika tokoh Besut muncul, dalam pertunjukan Besutan, gendingan yang ajeg yang mengiringinya adalah gendingan berlambar “Alas Kobong”. Konon, gending ini melambangkan percikan semangat baru bagi perjuangan hidup yang terus menerus dilakukan tanpa menyerah. Tembang “Sambel Kemangi” yang diciptakannya adalah cermin manusia Jawa yang mampu hidup dengan sumeleh, tidak serakah, gigih bekerja, dan mensyukuri apa yang terberi.

“Manusia ludruk” tidak anti-literasi, tapi mereka dijauhkan dari sejarah (bias politik dan ekonomi) bahkan mereka sungguh tak tahu siapa dirinya yang sebenarnya dalam konteks ke-Indonesia-an yang terus bergerak. Barangkali gagasan “sastra ludruk” tidak memiliki akar historis secara literer yang memadai. Tak banyak catatan atau karya yang kita temukan sebagai tolok-ukur kesusastraan. Namun, persoalan saat ini adalah bagaimana kita memulai pelacakan sejarah ludruk di Jawa Timur untuk menyingkap yang silam itu. Otentisitas kita ditantang untuk kembali mencari akarnya, bukan untuk memitoskannya, tapi bagaimana menumbuhkan dan memaknai kehadiran ludruk di masa kini.

-----
*Fahrudin Nasrulloh, cerpenis bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang

Selasa, 22 Mei 2012

Sejumlah Festival, Lomba, Parade dan sejumlah beban untuk masa depan

 Sejumlah Festival, Lomba, Parade
dan sejumlah beban untuk masa depan

Oleh :
Halim HD (Networker Kebudayaan)


Dalam rentang waktu setahun terakhir ini, orang teater mungkin boleh berbangga dengan berbagai acara teater yang ter/diselenggarakan untuk meneguhkan dirinya di dalam kehidupan kesenian. Dan sebagian orang mungkin akan geleng-geleng kepala, bagaimana suatu jenis kesenian (baca: teater) yang boleh dikatakan tak pernah bisa memenuhi – dari segi manajerial – pengembalian biaya produksi namun tetap selalu muncul di tengah-tengah masyarakat. Mungkin teater, bagi sementara orang dianggap sejenis ‘kegilaan’ tersendiri : suatu kerja yang tanpa memperhitungkan sejauhmanakah dampak kepada lingkungan, dan tak jarang seperti menepuk angin di tengah badai kehidupan kebudayaan yang serba konsumtif. Dan orang-orang teater terus mencanangkan apa yang ada di dalam pikirannya : kerja, kerja, dan berkarya.

 Dalam konteks berkarya dan kerja teater itulah kita menemukan enerji yang meluap yang tak pernah putus sepanjang tahun. Di Makassar dengan lomba monolog yang dalam setahun terakhir ini dua kali diselenggarakan. Di Denpasar, dua-tiga kali peristiwa yang sama digelar, dan sementara itu di Semarang dan Yogyakarta mengiringinya, dan masih ditambah oleh forum teater. Sementara di Solo acara teater terus berlangsung setiap bulan, dengan dua-tiga kali pementasan, dan masih ditambah oleh Parade Teater Kampus Kesenian. Kota-kota lain seperti Mojokerto, Jombang, Tasikmalaya. Dan dari seberang pulau seperti Mataram-NTB, Padang Panjang. Sayup-sayup kita dengar juga dari Palu, Kendari, Mandar-Sulbar, Samarinda, Tenggarong. Dan tentu saja Bandung dan Lampung terus mengobarkan api kehidupan teater melalui pencarian pengucapan dan pencarian tehnik, sebagai upaya untuk merentang sejarah teater dari dan dengan kapasitas yang dimilikinya : teater tak cukup hanya dengan sejumlah angka produksi yang akan masuk ke dalam deret hitung biodata dalam sebuah file. Di balik itu, ada proses panjang yang memeras keringat dan enerji, yang tak jarang membuat sebuah grup bubar jalan.

 Dengan kata lain, apa yang ingin saya tegaskan di sini, begitu banyak grup teater khususnya di lingkungan kampus dan bahkan di luar kampus sekalipun yang hanya memajang angka produksi, dan tanpa memberikan sejenis penemuan tehnik atau gagasan panggung yang menggoda dan menggetarkan sanubari. Dalam konteks itulah berbagai acara teater yang saya sebutkan di atas, tanpa berpretensi saya menyaksikan semuanya, dan dengan berusaha untuk mempertimbangkan diskusi dan informasi dari berbagai kalangan yang secara intensif ikut menyaksikannya, ada benang merah yang mencemaskan di dalam begitu banyaknya acara yang diselenggarakan : teater menjadi sejenis untuk menyatakan diri tanpa memahami ‘siapakah diri’ itu, dan bagaimana diri menjadi diri di dalam panggung. Maka tak jarang kita saksikan sebuah monolog begitu encer, enteng dan bahkan banal. Pada sisi lainnya, teater nampaknya hanya dipahami hanya dengan sekedar ‘hafal teks’ dari sebuah lakon. Tak ada pencarian ruang kehadiran melalui tim kerja panggung yang melacak, adakah suatu teks yang diciptakan pada seabad yang lampau memiliki konteks, dan bagaimana konteks diciptakan bukan hanya oleh isu dan masalah tapi juga ruang peristiwa. Maka, misalnya untuk mengambil contoh, ‘Pesta Pencuri’ karya Jean Anoulih saduran Rahman Sabur yang digarap mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada Parade Teater Mahasiswa Kampus Seni, 6 Juli 2001 di kampus Institut Seni Indonesia (ISI Surakarta), menjadi begitu ironis dan tragis. Pementasan ini sungguh kocar kacir, dan cenderung ingin menjadi badut, yang nampaknya mereka dapatkan dari rekan-rekan sesama mahasiswa yang mungkin butuh hiburan dan ngakak tanpa membayar tiket!

 Adakah cuma dan hanya itu? Tak juga. Sebagian besar dari pementasan Parade Teater yang menabalkan kampus seni itu menjadi ajang kangen-kangenan. Well, mungkin kita perlu membuka ruang dada dan pikiran kita, dan memberikan permakluman. Tapi, jenis permakluman apakah yang mesti kita sediakan, jika kita mencintai teater dan kampus seni ingin disebut sebagai induk dari tetasan kaum pekerja seni dan pencipta peristiwa di atas panggung? Atau kita mengikisnya demi kriteria agar ada sesuatu yang bisa kita pegang sebagai penggaris untuk menentukan bahwa sesuatu memang bermakna, dan lainnya memiliki makna namun masih membutuhkan jenis kerja lain. Untuk itu, saya kira, jika saja kaum pekerja dan pencinta teater mau belajar dari sejarah dan biografi – dan juga dokumentasi yang begitu banyak – yang sesungguhnya, rasanya kini masih bisa kita kenal dan kita lacak, sangat mungkin jalannya roda kehidupan teater akan bisa berubah dan perubahannya ke arah yang menggembirakan.

 Dan kegembiraan itu, bukan lantaran begitu banyak pementasan dan acara yang sering dengan semangat menggebu-gebu di antara keluh kesah kekurangan ini dan itu. Tapi juga dibarengi oleh disiplin kerja melalui disiplin berpikir dan komitmen yang mendorong terciptanya etos kerja berkesinambungan. Sebab, panggung yang kini terserak di mana-mana membutuhkan benar isi yang bermutu, agar ada rasa hormat dari publik pembayar pajak.

 ***
 Sumber : DRAMAKALA | Edisi IV/Agustus 2011

Kamis, 08 Maret 2012

9 Pencerita yang Dibunuh Ceritanya Sendiri


9 Pencerita yang Dibunuh Ceritanya Sendiri

Fahrudin Nasrulloh*

            Mojokerto mulai bergerak lagi. Mojokerto coba diongkosi lagi. Oleh mereka-mereka yang masih bersetia menulis, dan satu-dua-tiga yang baru muncul belakangan. Sastra tampaknya tak pernah mati dari kondisi apa pun yang bahkan telah banyak mencekik para pelakunya untuk lebih jauh mengarus dalam dunianya yang semakin tak jelas. Tak jelas dalam arti bahwa rambahan estetika di dalamnya adalah pertarungan yang tiada habis dalam upaya bereksplorasi. Sekarang makin terasa dunia sastra lewat media yang makin tak terbatas, misalnya dalam jagat internet, karya lahir dan ditulis oleh ribuan penyuka mulai yang sekedar iseng-isengan sampai yang serius seriusan. Apakah ada karya monumental yang muncul seiring demokratisasi sastra yang kian tak terbatas itu? Media koran tak lagi menjadi sentral, meski pertarungan untuk menembuskan karya ke sana tetap jadi pertaruhan. Itu tak penting kiranya. Yang pasti, sastra sudah menjadi bagian yang tidak lebih asing lagi di masyarakat, untuk tidak mengatakan sastra masih saja tetap terasing dari masyarakatnya. Buktinya, apresiasi sastra sudah banyak masuk ke sekolah, kampus, dan komunitas di daerah baik di kota maupun di kabupaten.
            Membicarakan kota dan karya, cukup menarik bila kita menilik kembali Mojokerto beserta gerak sastranya dalam 5 tahun belakangan ini. Tahun 2007 sampai 2009 di Mojokerto masih dapat terasakan gerak sastranya, dan posisi apresiasi sastra yang paling menonjol adalah puisi. Banyak penyair yang bermunculan, selain yang tua-tua, sebagaimana yang disebutkan dalam pengantar kumpulan cerpen Tentang Kami Para Penghuni Sorter (2011) ini. Kemudian bisa kita cermati dalam 2010 sampai akhir 2011, kegiatan sastra nyaris senyap di Mojokerto, kecuali beberapa peristiwa sastra yang membuntut dalam agenda bulanan di Festival Bulan Purnama Wringin Lawang di Trowulan yang dihelat oleh Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto. Dalam 2 tahun itu pula, geliat sastra dalam tubuh Dewan Kesenian Mojokerto (kota) hampir tak terdengar.
Baiklah, itu cerita lumayan romantik dan agak tidak perlu jika dipanjang-panjangkan di sini. Kita langsung menuju rumah buku cerpen ini. Ada apa saja di sana dan apa yang terjadi.
Cerpenis dalam antologi ini banyak diisi oleh cerpenis asal Pacet, Mojosari, atau Bangsal, wilayah selatan Mojokerto. Sementara wilayah Mojokerto lainnya banyak dihuni penulis yang menekuni puisi. Latar sosial apakah yang tercermin dalam cerpen-cerpen mereka? Mereka menulis itu didorong oleh apa? Ini hal mendasar. Jelas riwayat mereka beda-beda, dengan niat, kondisi yang mempengaruhi, dan latar kreatif masing-masing.
Persoalan klasik menulis cerpen yang utama menurut saya adalah bagaimana sebuah cerita mampu berdaya hidup dan bergerak menceritakan dirinya sendiri di hadapan pembaca. Posisi penting pencerita bisa diistilahkan sebagai “si pelempar batu”, yang padanya hal-hal yang bersifat teknis semustinya terlebih dulu dapat ditanggulangi. Butuh ketajaman sorot mata, dan tindakan yang tepat-guna pada sasaran, karena cerpen itu ya cerita yang singkat, yang simpel, kalau perlu sekali dibaca bisa meng-KO pembaca. Contoh entengnya, paragraf pertama yang ditulis diupayakan tidak membikin bosan, sebab pasti pembaca akan segera melemparkannya ke tong sampah. Karena ini soal “dunia dalam” pada diri si pencerita, wilayah psikologis yang berpusaran di kerak otak ini bisa bercabang-cabang dan melantur ke mana-mana.
“Ini kan soal gimana mengatasi psiko-diri sesaat sebelum hendak menulis cerita, bukan?” Ini yang saya sebut sebagai “medan penanggulangan kreatif si personal”. Dan memang, di kedalaman sana, penanggulangan itu tak selesai-selesai yang justru pada titik kulminasi tertentu makin menguat bersama kegentingan yang dengan sendirinya akan terus merusak kegelisahan apa pun. Semua itu bisa dibikin jelas tampaknya, pada hal sepele sebenarnya, bagaimana sih ide cerita itu hendak diceritakan? Ini akan dengan sendirinya memberi corak pada tema, tokoh, dan konflik yang dibangun sekaligus benarkah sudah menarik, menohok, seperti kilatan, cara bercerita yang demikian yang ditawarkan? Dari situ, dan lewat beberapa cerpen dalam buku ini, kita bisa melongok, oh, adakah sesuatu yang sudah dipertimbangkan matang-matang bahwa cerita ini cerita itu telah benar-benar menjadi sebuah cerita? Ataukah sekedar berita? Atau semacam “kesan” akan peristiwa yang pernah tersaksikan saja dan karenanya dipertanyakan sudahkah pembaca menemukan “pokok cerita” di sana? Kita bisa tilik kembali cerpen-cerpen ini: “Catatan Seorang Tuna Netra” oleh Atina Sabila, “Doa Istri Tukang Semir Sepatu” oleh Jack Effendi, “Negeri Dongeng” karya Nasrulloh Habibi, “Purnama Di Tepi Sungai Brantas” karangan Rais Muhammad KS, dan “Payung” oleh Mochammad Asrori.
            Perkara gaya bercerita yang berlarat, terkesan dipanjangkan, seolah deskripsi yang dipaparkan membutuhkan yang lebih dan lebih agar pembaca nyaman dan jenak kadang justru memunculkan rasa bosan dan memutungkan pembaca untuk merampungkan cerita. Tema kerapkali menempati posisi yang perlu diperhitungkan, misalnya apa yang dinilai lebih dari sebuah cerpen jika cerita yang ditawarkan itu sesuatu yang tak jauh dari keumuman atau yang sudah biasa kita dengar atau dari kenyataan yang begitu jamak dialami khalayak. Maka dalam cerpen jika semua komposisi vital pembentuk dan pengokoh sebuah cerpen tidak digarap dengan pendalaman serius maka selanjutnya hanya akan menghadirkan hal-hal yang “permukaan” saja. Tak menembus ke inti cerita. Ke konkrit cerita.
Kekonkritan cerita sebagai gagasan yang tidak muluk-muluk bisa kita temui dalam cerpen Hardjono W.S. “Penghuni Sorter”. Ini tentang Mak Pah tukang warung kopi yang suaminya mati secara tragis lantaran soal warisan lalu ia dibunuh keponakan sendiri. Sejak kejadian itu, Mak Pah tetap bertahan berjualan untuk mempertahankan hidupnya. Meski ini cerita yang bisa kita dapati dalam berita kriminal di koran atau televisi, namun tetap asyik dibaca karena cara berceritanya yang tidak bertele-tele. Cerpen “Rebiin” dari Akhmad Fatoni, untuk sekilas tampak menyisakan problem dalam merumuskan ide dasar konflik yang dibangunnya, juga logika bercerita, namun teka-teki si tokoh suami dengan ketidak-percayaannya pada omongan si istri bahwa adiknyalah yang sesungguhnya mengguna-gunainya itu tidak menemukan korelasi logis yang realistis kenapa kekeraskepalaan itu bertahan dan modus si adik yang disangka (atau dituduh?) tersebut terjadi begitu saja. Kita bisa terpancing untuk mengulur tanya: Jangan-jangan, jangan-jangan: terjadi keliru tuduh? Atau termakan hasutan? Atau membiarkan itu terjadi untuk tujuan lain, tujuan siapa? Tiga tokoh di sini, menurut saya, jika saya menggunakan pola investigatif ala Agatha Christie: masing-masing menyimpan “motif gelap” yang susah ditebak endingnya. Bila menurusi alur logika ini, Fatoni boleh jadi telah membuat sekian seri tentang Rebiin ini.
Cerpen “Tentang Kami” karya Jr. Dasamuka ini jelas realis. Sebuah rencana pembunuhan kepada kakaknya sendiri yang berupaya secara terang-terangan dan kasar ingin merebut kekasih si tokoh. Aroma dendam menguar pekat di sini. Cerpen “Yang Dibunuh Cerita-Cerita” karya Dadang Ari Murtono juga bercorak realis yang lebih masuk ke dalam. Pola tutur yang terkesan melantur-lanturkan emosi dijalin dengan logika bahasa yang padu dan baluran metaforik yang cukup menyentuh, kadang terasa boros kata. Antara sosok si tokoh yang dilematis, bahkan sangat-sangat paranoid, dengan kekasihnya (yang berseru: “Maka kuambil urat-urat kaki dan tanganmu. Lumpuhlah. Berhentilah mencipta tragedi dalam hidup kami.”), dengan kawan-kawannya, yang diilustrasikan bahwa pada detik-detik kematian si tokoh karena kanker darah unsur dramatik begitu kental. Kesadaran alam lain dalam cerita Dadang itu menubuh dan menembusi ruang-waktu secara retrospektif yang ulang-alik: pada ungkapan di saat-saat si tokoh sebelum mati, setelah mati, dan aku lirik pencerita yang memungkasi di akhir cerita:
Kawan-kawan dan tetangga-tetangganya bersumpah ia tersenyum dan terlihat teramat bahagia ketika diketemukan meninggal dalam kamarnya yang pengap asap rokok dan sempit itu. Tak ada yang tahu apa yang menyebabkan ekspresi wajahnya seperti itu. Tak ada yang tahu bila segala yang pernah ia tulis, segala cerita yang pernah ia karang, segala tokoh-tokoh yang ia lahirkan, bergantian mnjenguknya. Dan ia tak lagi merasa berhutang pada apa-apa dalam cerita-cerita itu, pada tokoh-tokoh dalam cerita-cerita itu.

Adakah ini cerita yang disamarkan tentang peristiwa riil diri Dadang sendiri yang sebenarnya? Kemungkinan itu bisa benar, dengan kenyataan umum bahwa setiap karya merupakan cerminan diri pengarangnya, tentu saja, dengan kadar yang tak bisa diukur prosentasenya. Dalam kumpulan cerpen ini tema personal dengan berbagai sisikmelik  problematiknya lebih mengemuka ketimbang tema sosial.   
Walakhir, kelemahan-kelemahan juga rambahan estetik dalam menulis cerpen memang kompleks. Membuat cerita yang sederhana tapi berisi juga rumit, dan semua itu adalah bagaimana pandangan hidup dan sikap dalam proses kreatif itu tidak dihinggapi oleh hal-hal yang bersifat instant dan watak megalomaniak, misalnya ingin cepat dimuat media, tak mengindahkan revisi berkali-kali, menghindari mendiskusikan karya dengan teman terdekat, ingin cepat diantologikan jadi buku, mengejar target sayembara cerpen, watak manipulatif, miskin bacaan, ingin cepat terkenal, tak menghargai pendapat orang lain, malas riset (ini yang banyak diabaikan), dan bla-bla-bla yang kesemuanya itu adalah soal-soal lawas yang jadi penyakitnya penulis saat ini yang disadari atau tidak membuat karya-karya sastra kita mengalami kesumpekan. Dan sastra kita cuma jadi “sastra sepintas lalu”, “yang biasa-biasa saja” sebagaimana yang disitir Budi Darma dalam buku esai sastranya Solilokui.
Dan semoga sajalah, semua cerita yang telah selesai ditulis dan kini dibaca oleh siapa pun itu, mampu hidup dan memberi nyala api, bukan epidemi. Apakah itu yang kita doa-harapkan? Atau, biarin saja, semua cerita yang tertuliskan itu kuasa membunuh penulisnya setiap waktu, untuk kemudian bangkit lagi lalu membikin tularan-tularan cerita yang lebih-lebih sinting sinting lagi… (Rowahu Bukori Non Moslem)
Hahahahahuahuaahuahua…kok serius terus siiiiiih bersastranya! Ngopi-ngopi dan rokokan dulu aaaahhh!
Salam kreatif selalu...    

Catatan: esai ini akan dijadikan bahan diskusi dalam bedah kumpulan cerpen Tentang Kami Para Penghuni Sorter  pada 24 Desember 2011, di Mojosari, Mojokerto.
---------
*Fahrudin Nasrulloh, cerpenis, bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang

Sabtu, 26 November 2011

Teknologi Informasi: Antara Keinginan dan Kebutuhan


Teknologi Informasi: Antara Keinginan dan Kebutuhan[1]

Oleh : Jabbar Abdullah[2]

Sebelumnya, saya akan berkisah tentang warung kopi. Sepintas, Information Technology (IT) dan warung kopi memang tidak nyambung. Tapi bagi yang peka, warung kopi tanpa kita sadari merupakan tempat terjadinya sirkulasi teknologi informasi (TI), apapun bentuknya. Mulai dari babakan politik, ekonomi, sosial dan bahkan seni-budaya. Warung kopi tidak hanya menyediakan secangkir kopi, teh, pisang goreng dan sejenisnya. Warung kopi juga tempat mengaduk informasi yang disuguhkan dengan rupa-rupa teknologi. Warung kopi juga bisa menjadi tempat “menggoreng” ide atau gagasan. Intinya, setiap tempat berpotensi untuk kita jadikan sebagai media mengolah segala hal yang terkait dengan persoalan teknologi informasi.
Tak dipungkiri, setiap detik teknologi yang diciptakan manusia senantiasa berkembang dengan pesat. Produk teknologi pun bervariasi. Semua dicipta menyesuaikan kebutuhan hidup manusia. Namun, jika perkembangan teknologi tidak disikapi dengan tepat (baca: sesuai dengan fungsinya), maka akan terjadi disfungsi, bahkan bisa jadi akan menjadi senjata makan tuan. Disadari atau tidak, perkembangan teknologi ternyata berimbas pada terciptanya budaya instan (baca: siap saji) terkait dengan pemenuhan sebuah kebutuhan.
Jika kita menyikapi kebaruan teknologi dengan instan, maka bersiaplah untuk menjadi budak teknologi. Orang yang sudah menjadi budak teknologi akan terjangkit penyakit egois, individualis dan hedonistis. Agar tidak terserang ketiga penyakit tersebut, maka kita harus memperlakukan teknologi sebagaimana mestinya – meminjam istilahnya WS Rendra – agar kehidupan tetap berjalan berimbang dan wajar.
Dalam keseharian, kita tidak terlepas dari yang namanya peristiwa memberi dan menerima dengan segala bentuknya. Saat kita mengalami dua peristiwa ini, kita akan dihadapkan pada dua pilihan, yakni antara keinginan dan kebutuhan. Jika peristiwa tersebut terkait dengan informasi, maka informasi yang kita berikan atau kita terima tersebut selanjutnya mau disikapi dengan cara yang bagaimana. Jika kita memposisikan sebuah informasi hanya sebatas keinginan, maka sikap kita cenderung diam alias pokok’e eruh. Sebaliknya, jika kita menjadikan informasi tersebut sebagai sebuah kebutuhan, maka kita akan cenderung berupaya untuk bagaimana caranya agar informasi tersebut bisa dengan segera tersebar dan akhirnya diketahui oleh khalayak.
Terkait dengan memberi dan menerima informasi, kita harus pandai-pandai memilih dan memilah. Di sini kita juga harus punya pertimbangan tentang media dan kepada siapa kita harus berbagi informasi tersebut. Nah, di sinilah pentingnya kita membangun jejaring. Jika kita telah memiliki jejaring, maka kita tidak akan kesulitan dalam urusan memberi dan menerima informasi. Urusan membangun jejaring terkait erat dengan pengolahan data yang kita miliki. Jika kita tak memiliki jejaring, maka bisa dipastikan data berupa informasi tersebut akan mati, minimal – meminjam istilahnya Afrizal Malna – tidak berbunyi.
Data akan datang dari arah yang tidak pernah kita duga. Pertanyaan paling mendasar saat kita menerima atau memiliki data adalah, terus diapakno?
Memberi bunyi pada data yang kita miliki bukanlah persoalan mudah, meskipun medianya berlimpah. Adakalanya kita kebingungan saat memiliki data yang melimpah. Mau kita apakan data itu? Data itu mahal dan memiliki kekuatan yang besar. Karena itu tidak semua orang atau komunitas akan dengan mudah berbagi data. Kecerobohan dalam mengolah data akan berdampak langsung dengan bangunan jejaring kita. Data ibarat zakat. Di dalam data itu sendiri juga terdapat mustahiq, baik personal maupun kolektif, yang berhak menerima zakat data. Meskipun pada prinsipnya setiap orang memiliki hak atas apa yang kita miliki, namun orang lain tidak berhak memaksa kita untuk memberikan apa yang kita miliki. Semua dikembalikan pada kesadaran bahwa seseorang atau komunitas itu tidak bisa hidup sendiri. Untuk bisa berdiri di atas kakinya sendiri, seseorang atau komunitas membutuhkan kerjasama dengan yang lainnya.
Untuk urusan mengolah, tidak semua orang mampu melakoninya. Terlebih mengolah dan menghidupi (baca: memberi bunyi) pada data yang dimiliki. Di era yang serba “klik” dan “touch” ini, kita banyak ditawari pilihan-pilihan media yang bisa dimanfaatkan terkait dengan urusan memberi bunyi pada data. Media online, baik blog maupun website misalnya, menawarkan banyak sekali species teknologi yang kesemuanya bisa dijadikan sebagai ladang menanam dan membunyikan data. Ada Facebook, Twitter, Blogspot, Wordpress, Multiply, netlog, dan masih banyak lagi. Seluruh species teknologi tadi, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, memberi ruang bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya secara gratis. Yang terkini, sampai-sampai ada yang rela memberi fasilitas WiFi agar warungnya bisa menarik konsumen yang lebih banyak. Artinya, kalau kita memang serius menggeluti dunia IT maka pertanyaannya adalah sejauhmana kita mampu mengolah ruang dan mengolah data yang kita miliki?
Dari sekian banyak media, silahkan dipilih mana yang menurut kita lebih efektif untuk dimanfaatkan sebagai alat untuk membunyikan data. Apapun pilihannya, yang terpenting adalah kita harus mampu untuk istiqamah, baik dalam memberi maupun menerima. Upaya berbagi dan menerima data terkait erat dengan yang namanya updating, yakni upaya mencari kebaruan-kebaruan tentang data. Jika kita malas memperbarui data, maka kita akan ketinggalan kereta.
Kiranya cukup sekian uraian tentang urusan Information Technology (IT). Yang harus selalu kita ingat adalah, bahwa dalam urusan IT , musuh utama kita adalah kemalasan.
--------------

1) Makalah disampaikan dalam Pelatihan Teknologi Informasi, tanggal 26–27 November 2011, pukul 14.00–17.00 Wib.
2) Lurah Komunitas Lembah Pring Jombang 

Rabu, 01 Juni 2011

Federasi Teater Indonesia - SAYEMBARA NASKAH DRAMA NASIONAL FTI PELAJAR & MAHASISWA

Federasi Teater Indonesia
SAYEMBARA NASKAH DRAMA NASIONAL FTI PELAJAR & MAHASISWA

FTI berkehendak untuk menggairahkan kembali semangat menulis naskah drama, merangsang para penulis muda untuk juga bergiat di dalamnya, dan pada akhirnya meningkatkan perbendaharaan naskah Indonesia. Tidak tertutup pula harapan naskah-naskah baru tersebut dapat menjadi alternatif terutama bagi pertunjukan yang semakin dapat mewakili hidup dan persoalan-persoalan kemasyarakatan mutakhir kita.
Tema
Tema bebas, namun diharapkan yang “berakar” berkonteks dengan kekinian Indonesia.
Waktu Kegiatan
Pendaftaran dimulai awal Mei 2011, batas pengiriman terakhir tanggal 30 Juli 2011 ( cap pos).
Dewan juri:
Afrizal Malna (Satrawan),Nano Riantiarno (Teaterawan), Radhar Panca Dahana (Pembina Teater)
Tempat
Sekretariat FTI, Jl. Muchtaruddin 20 B Komplek PU Pasar Jumat Jakarta Selatan
121310 Indonesia, Telp. 021-8637 4965, Email : ftindonesi@yahoo.com
Hadiah
Pemenang Terbaik dari Terbaik : Rp. 10,000,000,-
plus tropi dan piagam penghargaan
Pemenang 5 naskah drama Terbaik : masing-masing mendapatkan
Rp. 5000,000,- plus tropi dan piagam penghargaan
Ketentuan Peserta:
1. Isi Naskah Tidak Menyinggung SARA
2. Pelajar dan mahasiswa Indonesia
3. Tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku
4. Jumlah HALAMAN NASKAH, MINIMAL 15 haL. Maksimal 40 hal. (Ukuran kertas A4, 2 Spasi, Arial), Berbahasa Indonesia.
5. Naskah dikirim dalam file digital (soft copy) 1 Buah dan 3 rangkap berjilid (hard copy) dengan melampirkan :
  • Photocopy Kartu Tanda Pelajar /Mahasiswa
  • Biodata Penulis
  • Surat pernyataan bahwa naskah yang dikirim adalah asli, belum pernah diterbitkan dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis, bermaterai 6000.
6. Naskah drama dikirim ke panitia dengan kode: SNPND FTI Pelajar/Mahasiswa 2011 ke sekretariat FTI.
____________

Sabtu, 23 April 2011

Merajut Jejaring Seni Budaya Melalui Teater dan Seni Rupa @ Dimuat SERAMBI BUDAYA RADAR Mojokerto, Minggu, 17 April 2011

Merajut Jejaring Seni Budaya Melalui Teater dan Seni Rupa

Oleh : Jabbar Abdullah*

Kurang lebih pukul 08.50 Wib, rombongan Tim Indonesia Art Contemporary Network (iCAN) yang terdiri dari Afrizal Malna, Titarubi, Antariksa dan Stephanie Goeltom (Puni), tiba di area Kantor PEMKAB Jombang untuk kemudian menuju lantai dua tempat AULA Bung Tomo berada. Awal kali memasuki pintu menuju ruang diskusi, tim iCAN mendapat suguhan awal berupa pameran fotografi dari Jombang Fotografer Community (JFC). Naik ke lantai dua, kembali mendapat suguhan pameran seni rupa dari Komunitas Pelukis Jombang (KOPI Jombang).

Sebelum kedatangan tim iCAN, suguhan paling awal untuk pengantar menuju diskusi, kelompok musik SKETIKA telah terlebih dahulu hadir dan melagukan beberapa lagu. Kedatangan tim iCAN langsung disambut oleh Agus Riadi (Ketua Dewan Kesenian Jombang) yang ditemani oleh Cak Nasrul Ilah dan Inswiardi (moderator), Fahrudin Nasrulloh (narasumber teater), dan Khoirudin (narasumber senirupa).

Jombang menjadi tuan rumah kelima dalam rangkaian Road Show Forum Teater dan Seni Rupa Jatim, setelah Malang , Jember, Surabaya dan Mojokerto. Acara ini adalah hasil kerja bareng antara iCAN dan Dewan Kesenian Jombang (DeKaJo) yang didukung oleh Komunitas Lembah Pring,  Komunitas Pelukis Jombang, Jombang Fotografer Community (JFC), Suwarna Art Space (SAS), Perhutani dan beberapa donator dari instansi swasta di Jombang. Secara resmi, diskusi dimulai sekitar pukul 10-an. Sesuai rundown acara, pembukaan dibuka oleh saudara Bakir (Komunitas Tombo Ati). Satu-persatu runutan acara dibacakan. Seusai pembukaan, Agus Riadi (Ketua Dewan Kesenian Jombang) selaku "shohibul hajat" dipersilahkan memberikan sambutan. Selanjutnya MC menyerahkan waktu sepenuhnya kepada moderator diskusi.

Moderator mulai beraksi. Cak Nasrul Ilahi memberikan gambaran awal tentang kondisi teater dan seni rupa Jombang. Disusul kemudian oleh Inswiardi. Ia mengawali dengan menyuarakan dialog besutan, baru kemudian memulai diskusi. Acara berlambar “Launching, Diskusi Teater dan Seni Rupa bersama Afrizal Malna dan Titarubi” ini dihadiri kurang lebih seratusan peserta, yang terdiri dari banyak atribut. Di antaranya, birokrasi (Perhutani), Pengusaha, guru-guru MGMP Seni-Budaya, Komunitas Pelukis Jombang, Jombang Fotografer Community (JFC), Desain Grafis, pelajar dan mahasiswa, serta pegiat dan komunitas teater di Jombang dan di luar Jombang. Dengan kata lain, keterlibatan telah terjadi.

“Diskusi ini sengaja didesain oleh panitia untuk tidak hanya dimiliki oleh pelaku teater dan seni rupa. Panitia berkehendak diskusi ini menjadi milik dan kebutuhan bersama atau lintas disiplin”, ujar Imam Ghozali AR , selaku ketua panitia dan Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jombang.

Imam Ghazali AR menambahkan, kegiatan ini menurutnya menarik untuk mulai merajut jejaring seni dan budaya lebih istiqamah, mengingat kita berada di ruang era jejaring.

“Saya pikir teman-teman Jombang mesti mengisi “ruang kosong” tersebut agar tidak terjebak dalam “chauvinisme lokal kekanak-kanakan” yang dapat memunculkan “rasa serba hebat””, imbuhnya, sembari menyulut rokok Dji Sam Soe kretek.

Berangkat dari situlah kemudian panitia memilih narasumber, utamanya teater, orang yang bukan pegiat teater, namun memiliki perhatian terhadap peristiwa teater yang tumbuh dan berkembang di Jombang. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan “pembacaan yang lain” atau –dalam istilahnya Fahrudin - “mata lain” terhadap teater. Panitia akhirnya menunjuk Fahrudin Nasrulloh (Pegiat Komunitas Lembah Pring, Jombang) yang kesehariannya bergulat di ranah sastra namun juga punya perhatian yang cukup terhadap teater di Jombang, baik teater modern maupun tradisi, ludruk.

Secara sederhana, Afrizal Malna mengatakan : “Setiap saat kita menemui teater. Di kamar mandi kita bertemu teater industri, teater pasar hanya lewat sabun yang kita gunakan untuk kita mandi. Di sekolah ada teater pendidikan. Di politik malah lebih banyak lagi teater. Ada kampanye, macem-macem… Teater pertama menjadi penting kalau teater kedua lahir. Kalau teater kedua tidak lahir berarti ada persoalan dalam bagaimana teater itu diproduksi."

Mengenai "pembacaan yang lain" terhadap bukunya Afrizal Malna, dalam paragraf kedua makalahnya yang berjudul “Yang Berjalan dari Kuburan Teater ke Kuburan Fiksi”, Fahrudin menulis : "Hal penting dari kehadiran buku Afrizal Malna Perjalanan Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata ini adalah bagaimana ia melihat dengan “mata lain” sebuah pertunjukan teater yang telah ditontonnya selama kurang lebih 12 tahun. Sebagai seniman teater yang pernah terlibat di Teater Sae, ia juga adalah penyair yang sudah dikenal luas dalam dunia sastra Indonesia . Pertama, saya melihat buku ini merupakan sebuah catatan tajam dengan berbagai perspektif sosiologis maupun antropologis, dan oleh sebab itu pembaca, sebagai “teater ketiga”, tidak semata melihatnya sebagai hasil reportase, namun lebih dari bagaimana kita diajak memasuki cara Afrizal menonton teater yang kemudian disebutnya sebagai “teater kedua”.

“Singkatnya, kita diajak menonton ulang dan membaca oleh Afrizal Malna seluruh peristiwa teater yang disalin dalam buku Perjalanan Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata, yang ditulisnya kurang lebih selama 15 tahun,” komentar Syaiful Anam “Glewo”, pegiat teater Lidhie Art Forum Mojokerto dan Komunitas Pondok Jula Juli yang datang bersama kawannya dari Balai Belajar Bersama Banyumili.

Berbeda dengan Fahrudin, narasumber seni rupanya, "pyur" menggeluti seni rupa. Eko Utomo selaku ketua Komite Senirupa DeKaJo, menunjuk Khoirudin yang saat ini sedang dalam proses menyelesaikan studi S-2 nya di ISI Yogyakarta . Dalam paparannya, Khoirudin lebih menekankan pada upaya bagaimana seni rupa di Jombang bisa turut ambil bagian dalam peta seni rupa, minimal di Jawa Timur. Dari sini dapat disimpulkan sementara, bahwa di sinilah pentingnya untuk segera membangun jejaring, melalui media apapun.

Terkait dengan media, Titarubi, yang sudah 20 tahun menjadi perupa, juga menguraikan gagasannya dalam berkarya yang jangan hanya berhenti pada media canvas. Seni rupa bisa dirupakan dalam banyak media. Dalam durasi 15 menit-an, Titarubi memberikan beberapa tawaran terkait dengan pengelolaan media untuk seni rupa. Ia menampilkan beberapa karya-karyanya yang didominasi seni rupa instalasi. Tiga di antaranya berupa patung berkepala gundul yang berhias kaligrafi, rangkaian manik-manik yang berwujud gaun yang dijadikan kostum tari, dan karya berjudul “Sebuah Pohon Kecil di dalam Rumah yang Belum Selesai”.

"Seni rupa seperti juga bahasa. Adalah menyalin penglihatan ke dalam gambar, ke dalam bentuk. Ia bisa jadi gambar-gambar dalam bentuk apapun," jelas Titarubi yang mempresentasikan materinya dengan menggunakan bantuan proyektor.

Di akhir sesi, giliran Antariksa yang mengudal pentingnya membangun jejaring (network) dalam berkesenian. “Seniman dan kesenian tidak dapat berdiri atau menopang dirinya sendiri. Ia membutuhkan penyanggah untuk menopang dirinya. Ditopang dengan membangun hubungan-hubungan dan jejaring lintas disiplin yang lain,” ujarnya.

Panitia juga “menyisipkan” gerakan Koin Sastra untuk Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang kondisi “kesehatannya” sedang krisis dan terancam mati.

“Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin bukan hanya sekadar pusat dokumentasi, tapi juga gambaran peradaban sebuah bangsa. Alhamdulillah. Bukunya mas Afrizal juga mendapat apresiasi yang luar biasa. Untuk penjualan di tempat, laku 8 eks. Panitia juga membeli secara khusus 10 eks. Sementara Koin Sastra berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 1.865.350,-. Untuk penyerahannya akan kita titipkan kepada tim iCAN,” ungkap Agus Riadi.

__________

Jabbar Abdullah, Pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang

Geladak Sastra, Community Culture, dan Perluasan Apresiasi Sastra | Dimuat Serambi Budaya Radar Mojokerto, 10 April 2011

Geladak Sastra, Community Culture, dan Perluasan Apresiasi Sastra

Oleh : Nanda Sukmana*

            Tiba – tiba saya ingin menulis tentang apa saja yang berkaitan dengan Geladak Sastra. Entah, motif apa yang mendorong saya untuk menulis forum diskusi sederhana yang rutin dihelat Komunitas Lembah Pring ini sejak 28 Maret 2010. Selama itu pula mereka telah menggelar diskusi sastra sebanyak 16 kali. Itu berarti diskusi digelar pada setiap bulannya, sasampai beberapa minggu terakhir diskusi gencar dilakukan. Adalah Fahrudin Nasrulloh dan Jabbar Abdullah sebagai lurahnya _ lah yang menggawangi lahirnya forum diskusi yang rata – rata dihadiri 20 hingga 30 – an orang pada setiap sesinya.

Baiklah, perkenalan saya dengan mereka pertama kali saat rekan – rekan Komunitas Tombo Ati mementaskan lakon Lebedinaya Pesna (Anton Chekov) di Gedung Bioskop Plasa, Sabtu, 10 Mei 2008. Saat itu, Jabbar mengenakan kaos tipis, saya lupa warnanya dan memakai kupluk sleret – sleret atau hitam polos yang selalu dipakainya sampai saat ini. Dan sampai sekarang Jabbar masih kelihatan cungkring. Beda lagi dengan Fahrudin kalau dulu kecil kurus, sekarang badannya bohai. Celananya pas sesak. Yang tak berubah hanya brengosnya nyrongot – nyrongot. Nah, pascaperkenalan itulah saya mulai mengenal tulisan – tulisan Fahrudin yang dahsyat, sedangkan Jabbar, lama kelamaan mulai mengikuti jejak Abdul Malik, networker kebudayaan dari mojokerto yang sangat militan.

Oleh karena itu, sudah sewajarnyalah saya harus mengapresiasi kerja keras mereka berdua. Mereka itu seperti martil – martil yang siap memalu siapa saja, tak lain dan tak bukan demi terbukanya ruang perluasan apresiasi sastra di Jombang khususnya. Bahwa intensitas perluasan sastra harus dipercepat oleh siapa saja, di mana saja dan kapan saja, begitu kira – kira saya membaca pikiran mereka. Senyata – nyata Komunitas Lembah Pring telah menjadi magnet bagi munculnya komunitas – komunitas sastra di Jombang, sehingga senyata – nyata pula perkembangan sastra di kota kecil ini sepertinya tengah mengalami fenomena menggembirakan, terutama berkait dengan kegairahan apresiasi dan penciptaan karya. Sama halnya ketika Komunitas Tombo Ati juga menjadi magnet bagi kelompok – kelompok teater di Jombang sejak 3 Agustus 1996. Meski relatif lama _ hampir 15 tahun, kelompok ini harus diakui telah memberikan kontribusi besar pada tumbuh kembangnya jagad teater Jombang. Alhasil, beberapa tahun terakhir banyak bermunculan kelompok – kelompok teater independent di ’’ibukota ludruk’’ ini _ meminjam judul jurnal sastra Jombangana, Komite Sastra Dekajo.  

Semakin maraknya ruang sastra di tengah – tengah masyarakat, tentu saja akan menghadirkan atmosfer tersendiri, terutama bagi munculnya media alternatif ekspresi publik guna mengimbangi mekanisasi sifat dan perilaku sebagai dampak dari industrialisasi di segala sektor kehidupan warga. Memang ide tersebut terkesan klise dan utopis bila kita melihat kembali kenyataan masih minimnya apresiasi sastra di level publik. Tapi justru di situlah tantangan yang harus dijawab oleh para pegiat sastra di Jombang. Dan saya pikir, Komunitas Lembah Pring sudah memulainya, meski terkadang untuk melihat kerja keras mereka begitu mengharukan sekaligus memilukan. Dengan sajian apa adanya, tikar digelar, intel datang, buku – buku dipajang hingga sesuatu dilahirkan, Fahrudin menyebutnya silaturahim dan pertemuan.    

            Lepas dari itu, salah satu strategi yang bisa diusahakan untuk membantu perluasan jejaring sastra di tengah – tengah masyarakat adalah penciptaan budaya komunitas (community culture). Secara sederhana konsep budaya komunitas bisa dimaknai sebagai bentuk usaha yang dilakukan secara intens dan terus – menerus yang akan memperkuat basis kesastraan di tataran komunitas. Komunitas di sini bisa dimaknai dalam dua kategori, yakni komunitas secara internal, berupa kelompok atau organisasi yang bergerak dalam apresiasi dan penciptaan karya sastra dan (baik di dalam atau di luar sekolah, pesantren, kampus) dan komunitas secara eskternal, berupa kelompok publik yang hendak dijadikan sasaran perluasan apresiasi sastra.

            Terbentuknya beberapa komunitas sastra di Jombang, harus dianggap sebagai gejala positif yang akan menggiring sedikit pandangan publik terhadap eksistensi sastra yang selama ini kurang mereka perhatikan. Guna memperteguh pandangan itu, komunitas sastra, secara internal, mesti melakukan pematangan – pematangan dalam proses tertentu yang didukung beberapa orientasi.

Pertama, orientasi apresiatif, berupa penguatan wacana untuk mengapresiasi sebuah karya sastra, baik puisi, cerpen, novel, atau drama. Pemahaman apresiatif terhadap sebuah karya akan mengarahkan anggota komunitas pada keragaman makna karya sehingga akan memunculkan perdebatan dalam lingkaran diskusi yang akan semakin mematangkan pemaknaan mereka terhadap sastra, di samping untuk mengisi kebutuhan batin.

Kedua, orientasi penciptaan, berupa workshop dan pendampingan dalam menciptakan sebuah karya. Semakin banyaknya karya yang dihasilkan oleh para anggota sebuah komunitas, sesederhana apapun bentuknya, akan semakin menambah semangat kreatif. Yang perlu diingat adalah kesadaran untuk memberi dan menerima kritik karena itu akan berguna dalam pembentukan jati diri karya. Bagi kalangan penulis pemula, apresiasi di komunitas akan memunculkan rasa percaya diri ketika harus berhadapan dengan publik yang lebih luas.

            Langkah berikutnya ketika budaya apresiatif dan penciptaan sudah terbentuk adalah bentuk usaha untuk memperluas komunitas penikmat sastra. Selama ini, diakui atau tidak, penikmat sastra masih terbatas pada mereka yang berbasis pendidikan, meski juga sangat terbatas. Khalayak di luar basis pendidikan juga mesti disapa, karena hal itu akan membantu sosialisasi makna humanitas sastra.  

            Untuk menggagas publik yang lebih luas, komunitas sastra harus mampu melakukan pembacaan awal terhadap kemungkinan-kemungkinan tentang karakteristik calon penikmat yang dibidik. Memang langkah ini membutuhkan kesabaran yang luar biasa dan sedikit usaha publikasi yang tidak mudah. Para pegiat sastra komunitas harus mampu meyakinkan mereka bahwa acara yang akan mereka hadiri mempunyai daya tawar tersendiri.

            Diskusi sastra dan seni rupa bersama Afrizal Malna dan Titarubi yang dihelat di ruang Bung Tomo, Pemkab Jombang, Minggu (10/4) merupakan strategi cerdik guna menyosialisasikan humanitas sastra bagi khalayak, apalagi konon sebagai pengulas buku Perjalanan Kedua : Antologi Tubuh dan Kata karya Afrizal Malna adalah Bupati Jombang. Dan menurut saya, ini baru luar biasa. Tambah luar biasa ketika acara tersebut juga dihadiri oleh penjabat – penjabat pemkab yang lain, direktur perbankan, pengusaha – pengusaha kaya, petani, pedagang, buruh pabrik, guru, dosen, semuanya tumplek blek di sana. Dan lagi – lagi Komunitas Lembah Pring menjadi salah satu penggagas di belakangnya. Mereka berhasil menjaring, memikat, dan memaksa munculnya sinergitas antarlintas komunitas, pemerintah, swasta, semoga media juga, meskipun dalam konteks itu peran pimpinan Dekajo yang bersahaja juga tak kalah cerdiknya dan harus diperhitungkan.

            Dan jika keberadaan kondisi ini dapat terus bertahan dan meluas akan semakin mendorong terciptanya kerja budaya antarkomunitas lintas disiplin ilmu yang saling silang memberikan gagasan – gagasan inovatif terhadap keberlangsungan masa depan berkebudayaan kita.

Terakhir, jika ingin membangun sebuah wilayah sastra yang kondusif, tentunya harus dibarengi dengan penciptaan budaya komunitas, sehingga suatu saat akan tercipta dinamika. Dan dinamika harus dimaknai sebagai pergesekan karya yang positif. Dan sesungguhnya, untuk itu, saya berharap bahwa Geladak Sastra selalu menjadi lembah kreativitas, berbagi dan berkomunikasi bagi para anggota dan masyarakatnya. Entah sampai kapan. Perlu uji waktu.

Lalu bagaimana kabar gedung kesenian? ’’Gak onok hubungane kalee guk,’’ seorang teman berseloroh dari pinggir meja kerja saya.
_________
*Manajer Artistik Komunitas Tombo Ati, bekerja sebagai staf pengajar di STKIP PGRI Jombang.

Hari Teater Sedunia, 27 Maret 2011 | CATATAN KECIL TEATER PELAJAR DI MOJOKERTO

Hari Teater Sedunia, 27 Maret 2011
CATATAN KECIL TEATER PELAJAR DI MOJOKERTO
Oleh : ACHMAD SAIFUL ANAM*

Minggu, 27 Februari 2011 sekitar jam 4 sore saya mendapat sms dari Cak Chamim Kohari yang mengabarkan bahwa Minggu malam ada pementasan teater hasil workshop dari pelajar yang juga santri di Pondok Pesantren Darul Falah Jerukmacan Kecamatan Gedeg. Segera saya jemput Cak Abdul Malik di perpustakaan Banyumili di Kampung Kradenan dan meluncur ke balai desa Japanan Lor tempat kegiatan berlangsung. Sesampai di lokasi, pentas sudah dimulai dengan baca puisi secara bergantian dari peserta workshop. Pentas hasil workshop pun dimulai. Terbagi menjadi 5 kelompok pemeranan, masing-masing: kelahiran, tanah, api, perang dan perdamaian. Meskipun cukup dominan dengan teater gerak dan minim dialog, namun jalan cerita cukup mudah diikuti. Seusai pementasan Cak Chamim Kohari selaku kepala sekolah, mengatakan bahwa pementasan tersebut merupakan hasil dari workshop teater yang diadakan oleh pihak pondok pesantren selama 3 hari dari tanggal 25-27 Februari 2011. Sebagai pemateri adalah Dody Yan Masfa, dari Teater Tobong dan Teater Doyan Rondo, Surabaya. Sementara itu Dody Yan Masfa, di sela sela memberikan materi workshop tak lupa mengabarkan ke jejaring komunitas teater lewat statusnya di akun facebook Teater Tobong.
Semangat untuk lahir dan berapresiasi didunia teater tampak diwajah santriwan-santriwati, dalam sesi diskusi yang digelar sesuai pementasan hasil workshop teater. Sebagian besar menyatakan kegembiraan ketika pertama kali berakting di panggung. Demikianlah gambaran awal dan kekinian kehidupan teater pelajar di Mojokerto.
Pengalaman berikutnya dalam mendokumentasikan pentas teater yang cukup berkesan adalah di even “ SCREAM” (Sooko’s Creativity Art and Music) pada hari Jum’at tanggal 4 Maret 2011. Digelar oleh SMAN Negeri 1 Sooko Kabupaten Mojokerto. Peserta kategori teater sebanyak empat grup teater pelajar.
Pementasan pertama dari Teater Payung Hitam SMAN 1 Sokoo Mojokerto dengan naskah Gelap, karya dan sutradara Edy Subianto selaku pembina Teater Payung Hitam. Kedua oleh Teater Incanda Mirror Theater dari SMAN 2 Kota Mojokerto dengan naskah Pengaduan Topeng, karya dan sutradara Andrian Dwi Cahyono (Chigusa Modjo). Ketiga oleh Teater Bintang dari SMAN 1 Mojosari naskah Amarah, karya dan sutradara M. Nur Badri (Mamack). Sajian terakhir oleh Teater Samudra Illahi dari MAN Sooko Mojokerto yang mengusung naskah Safa, karya Agus Jombang dan disutradarai oleh Bagus Yuwono (Mahayasa). Penampilan terbaik pertama diraih oleh Teater Bintang dari SMAN 1 Mojosari. Dalam amatan saya, panggung pementasan kurang maksimal karena sepanggung dengan Festival Band yang juga merupakan bagian dalam rangkaian kegiatan “SCREAM”. Meskipun demikian, beberapa peserta malah memilih pentas di depan panggung band. Riuhnya sorak sorai antara peserta festival band dan penonton teater juga menjadi tantangan tersendiri dari festival teater kali ini. Adziani Heramurti (Hera) salah satu panitia dan ketua ekstrakurikuler Teater Payung Hitam SMAN 1 Sooko Mojokerto mengatakan, bahwa acara ini merupakan bukti kebangkitan teater pelajar di Mojokerto. Teater di Mojokerto dikatakan mati tapi tidak mati dan dikatakan hidup namun sepi pertunjukan. Untuk itulah, Teater Payung Hitam memberi ruang kepada teater pelajar untuk berekspresi untuk menunjukan bakat berteater dan kreativitas.
Dari dua peristiwa teater di atas, sementara saya simpulkan bahwa pelajar dan santri di Mojokerto masih meminati seni teater. Kesimpulan tersebut didukung juga dari catatan diagenda saya, ternyata masih sederetan teater pelajar yang masih bertahan. Antara lain: Teater Q-TA SMA PGRI I Kota Mojokerto yang pernah mementaskan musikalisasi puisi berjudul Indonesia, karya Hamid Jabbar dalam ajang Mojokerto art Festival (Moral) tahun 2009 di halaman Dewan Kesenian Kota Mojokerto; mengikuti Pekan Seni Pelajar se Kota Mojokerto tahun 2010 di SMAN 2 Kota Mojokerto dengan naskah Ande Ande Lumut dengan sutradara Saiful Bakri; menjadi panitia dalam launching Antologi Puisi Afrizal Malna di SMA PGRI 1 Kota Mojokerto (bekerja sama dengan Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto); SMA Muhammadiyah Kota Mojokerto mengikuti Festival teater Pelajar se Jatim di Universitas Negeri Surabaya dengan naskah Wek Wek, karya D Djayakusuma dan sutradara Saiful Bakri; Teater Bintang SMAN Mojosari; Teater Air SMAN 1 Bangsal; Teater Incanda Mirror Theater SMAN 2 Kota Mojokerto; Teater Moeda SMAN 3 Kota Mojokerto; Teater Taman SMA Tamansiswa Mojokerto; Teater Jingga SMAN 1 Puri Kabupaten Mojokerto; Teater Satya Wikusama SMAN Gedeg Kabupaten Mojokerto; Teater Samudra Illahi dari MAN Sooko Mojokerto; Teater Payung Hitam SMAN 1 Sokoo Mojokerto; Teater Senja 789 MTs Smesta 789 Brangkal Kabupaten Mojokerto; Teater Kentrung SMAN Gondang Kabupaten Mojokerto.
Dari sederetan teater pelajar di atas, dapatlah saya rangkum beberapa hal: Pertama, Kurangnya informasi tentang even festival teater pelajar baik diadakan di Mojokerto maupun luar kota. Kedua, sebagian besar anggota teater pelajar adalah wanita sehingga cukup menyulitkan dalam memilih naskah. Ketiga, minimnya dana dari sekolah. Keempat, kurangnya sumber daya manusia pembina teater.
Melalui artikel sederhana ini, saya ingin mengajukan beberapa saran dan masukan demi kemajuan kehidupan teater pelajar di Mojokerto. Pertama, tiap kelompok teater pelajar memiliki email. Bermula dari email akan dilanjutkan dengan aktivitas pembuatan blog, akun di facebook, twitter dan gabung di milis teater. Informasi kegiatan festival teater maupun naskah teater dapat dikirim soft copynya lewat email. Murah dan lebih efisien. Kedua, mengadakan workshop teater untuk meningkatkan sumber daya manusia.
Lidhie Art Forum Mojokerto, sebuah komunitas gabungan teater pelajar di Mojokerto, beberapa kali mengadakan workshop teater bagi teater pelajar. Beberapa narasumber yang pernah menjadi pemateri adalah Zainal Abidin Domba (Jakarta), Herry W Nugroho (Jakarta), AGS Arya Dipayana (Teater Tetas Jakarta), Luhur Kayungga (Teater Api Indonesia), Kurniasih Zaitun (Komunitas Hitam Putih Padangpanjang Sumatera Barat), Ragil Sukriwul (Malang), Antok Agusta (Bangil), Andhy Kephix (Komunitas Suket Indonesia), Fatah (Surabaya), Rita Matu Mona (Teater Koma Jakarta), Kusworo Bayu Aji dan Retno Ratih Damayanti (Teater Garasi Yogyakarta), Bambang Prihadi (Teater Sahid Jakarta), Ical Siregar (Jakarta), Mijil Pawestri (Yogyakarta), Juma'ali (STKW Surabaya). Ketiga, mengadakan pementasan tunggal.
Membuat suatu pertunjukan karya teater memang membutuhkan energi yang besar dan menguras dana yang cukup banyak. Namun proses menyiapkan sebuah pentas merupakan praktek nyata dari seluruh materi teori yang telah diberikan dalam diklat dan workshop.
Saya mencatat hanya satu dua teater pelajar di Mojokerto yang telah mengadakan pentas teater tunggal, antara lain: Teater Senja 789 MTs Smesta 789 Brangkal Kabupaten Mojokerto mengangkat repertoar Robohnya Surau Kami karya AA Navis.
Keempat, mengikuti festival teater pelajar, jika pihak sekolah memberi ijin dan mendukung dana. Dengan mengikuti festival teater pelajar semisal yang diadakan Taman Budaya Jawa Timur, kelompok teater pelajar akan berinteraksi dengan berbagai komunitas teater pelajar lainnya, dapat saling sharing informasi maupun berbagi pengalaman.
Beberapa teater pelajar di Mojokerto yang cukup sering mengikuti festival teater pelajar antara lain: Teater Air SMAN 1 Bangsal meraih Penampilan Terbaik dalam Festival Teater Pelajar di Unesa Surabaya; Teater Taman SMA Tamansiswa Mojokerto mengikuti Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jatim di Surabaya; Teater Jingga SMAN 1 Puri Kabupaten Mojokerto mengikuti Festival Teater Pelajar Nasional di IKIP PGRI Semarang tahun 2008 dengan naskah Orang Kasar, karya Anton Chekov sutradara Bagus Mahayasa, dan meraih predikat Penampilan Terbaik dalam Festival Monolog yang diadakan oleh Unisda Lamongan; Teater Samudra Illahi dari MAN Sooko Mojokerto mengikuti Festival Teater Pelajar Nasional di IKIP PGRI Semarang tahun 2010 dengan naskah Lena Tak Pulang, karya Muram Batubara dengan sutradara Achmad Saiful Anam (Glewo).
Kelima, menonton pentas teater sesering mungkin sebagai referensi “visual”. Jika dana terbatas, ya.. cukup menonton dokumentasi pertunjukan teater semisal Teater Koma Jakarta yang menjual VCD dokumentasi pentas mereka yang rata-rata dijual seratus ribu rupiah pe-keping atau bisa pinjam ke sesama jejaring teater.
Keenam, banyak mengakses segala hal yang berkaitan dengan dunia teater semisal buku, naskah, katalog, foto, rekaman, poster. Semisal buku Nyanyian Lorong Gelap kumpulan dua naskah teater karya Bagus Mahayasa (Lidhie Art Forum), Teater Absurd karya Martin Esslin (Pustaka Banyumili, Mojokerto), Yuk Bermain Teater karya Hardjono WS (Desa Jatidukuh Kecamatan Gondang), Pengemis Itu (drama satu babak karya Anton de Sumartana, alumni SMA TNH Mojokerto), Sangkakala dari Timur (naskah Gatot “Sableng” Sumarno, Teater Kaca Mojokerto).
Demikianlah sebagian catatan kecil saya dalam mendokumentasikan dinamika teater pelajar di Mojokerto. Saya masih optimis bahwa teater pelajar akan berkembang lebih pesat di masa mendatang. Salam teater.
___________
*Achmad Saiful Anam (Glewo), penonton teater. Bergiat di Lidhie Art Forum Mojokerto dan Komunitas Pondok Jula Juli Mojokerto. Tinggal di Mojokerto.

Jumat, 21 Januari 2011

Puisi-Puisi Jurnal Jombangana

Puisi-Puisi Jurnal Jombangana, Nov 2010


Sabda dan Cinta

Oleh: Ali Subhan


glamor mata melihat gambarmu
menghayal jika ada hasrat membunuhku
mengabaikanmu adalah perjuangan terhebat dalam hidupku
hanya untuk merelakan jika dirimu bukan takdirku
bak lidah berlapis dua
bisa membawa cinta menjauh
bisa mengalirkan kebencian di setiap jaringan sel darah
seperti alam yang waktunya bisa berhenti
untuk memberikan ruang bagi dirimu
melihat jalan berembun…. membeku…. menetes ranting
seperti paruh meneguk air dari sumber padang pasir
mencari cahaya dalam sepi
membagi sendiri untuk sepi seperti tiada henti

tidak…. ini harus diakhiri…
tatap matanya telah melumpuhkan benang retinaku
keanggunannya adalah muslihat dibalik kerudungnya
sihir katanya memalingkanku dari hukum jagad raya
kebaikannya bermotif nafsu setan..
aku tidak ingin membagi selain denganNya
aku hanya butuh menggandengnya
untuk bersama menghiba dikaki kekuasaanNya
_________

Amanda Al Kautsar, 2008

Oleh: Robin Al Kautsar

telah lahir anakku yang kedua
ponsel se-dunia menuju ke arahku
“Eureka!”

seperti kakaknya
segera kubawa ia ke mihrab nabi
“Ya Tuhan
jadikanlah pula manusia ini
pembela risalahMu”

di bawah lengkung masjid yang sepi
di 17 anak tangganya yang gagah
para malaikat sudah menunggu
dengan seruling, rebana, harpa
tambur dan timphany
mereka beterbangan memainkan musik purba
“Selamat datang, wahai
kekasih Allah yang baru!”

keesokan paginya
marbut menemukan rangkaian mawar jingga
dan ia bertekad merahasiakannya

Jombang, 23 Juni 2008
__________

Merapi

Oleh: Yusuf Suharto

Lahar panasmu telah mengubah semuanya
Para makhluk dan juga manusia berlarian
Meenyelamatkan diri sebisanya

Siapakah yang tahu gejolak alam
Ketika memang telah ditentukan Tuhan

Wahai manusia
Siapakah yang sanggup menghindarkannya
Mayaat-mayat bergelimpangan
Dan tanpa perbedaan

Rasanya seluruh isi alam ikut menangis
Melihat fenomena hidup yang tak terkuasakan

Bukannya Tuhan itu kejam
Tetapi itulah kemestian
Betapapun pahitnya

Bahwa di balik kedukaan
Ada sejuta hikmah
Yang menuntun manusia menjadi berteguh iman
___________

Tanahku Bukan Milikmu

Oleh: Anjrah Lelono Broto

Bukankah setiap swara miliki gaungnya sendiri? Bukankah
tiap swara yang berdengung yang menyentak yang menjuntai niscaya
akan mencumbu buluh di rerimbun pring petung?
Begitu juga swaramu, anak-anakku.

Bukankah setiap mimpi miliki ujungnya sendiri? Bukankah
mimpi yang berkecambah yang meruah yang mengalir niscaya
akan tersimpan di laci memori pring petung?
Begitu juga mimpimu, anak-anakku.

Bukankah setiap rekah tanah miliki airnya sendiri? Bukankah
rekah tanah yang terlalu memberi ruang yang memberi dendang yang basah niscaya
akan mengubur akar, dahan, hingga dedaun pring petung?
Begitu juga dengan rekah tanah kelahiranmu, anak-anakku.

Berselang waktu,
rerimbun, laci, akar, dahan, hingga dedaun pring petung tersisa bongkah kisah
dalam masa indah tanah tumpah darah.
Berselang waktu, anak-anakku.

Swara-swaramu, mimpi-mimpimu, dan rekah tanah-tanahmu bersendawa dengan nestapa
persenggamaan berlebih tanah dan air. Dhapuran pring petung di sisi kanan
balairung rumah kita tinggal cerita lama terkubur buaian duka lumpur.
Lumpur menjengah telah merampas paksa semua yang berharga dalam hidup kita.

Girilusi, Mei 2010
_____________

Hujan Tadi Malam

Oleh: Zaenal Faudin

Hujan es semalam pecahkan genting
apakah kau dengar petir menyambar
pohon kelapa?
Daun jambu diam berwibawa:
“Kau hanya mimpi, anak muda.”
semalam petir menggelegar menyambar
pohon kelapa, pikirku

Tanah basah segar isyaratkan bahasa
pada kecambah yang semi pagi ini
“Hujan semalam bukanlah mimpi buruk,
hanya hati yang remuk serasa digiring
ke pembuangan Siberia.”

Aku berfikir, apakah tadi malam hujan es
jatuh pecahkan genting?

11 Desember 2007
__________

Rumput; Manfaat dan Kehinaanmu

Oleh : Lailatul Muniroh

Sungguh heran aku …
Kau tipis kecil …
Kau pun mudah tertiup angin
Kau begitu gampang dibabat
Karena kau berakar pendek dan lunak
Kau kesat
Kau begitu hina
Sejak lahirmu kau berada dibawah sandal para manusia
Kau begitu tak beraturan
Karena kau tumbuh dimana-mana
Usiamu pendek
Bagai bulu ketiak manusia yang mudah sekali dicabut
Bentukmu pun bermacam-macam
Hijau, kuning, coklat, violet
Kau mengkilat dedaunmu
Kau bercabang dan bertangkai
Meski begitu kau ciptaan Tuhan
Tiada yang menduga akan manfaatmu
Dengan manfaatmu …
Hewan ternak bisa memakanmu dengan lembut dan lahap
Bahkan manusia pun bisa memanfaatkanmu
Dan kau dapat juga sebagai penahan air
Karena warnamu hijau
Kau sungguh menyegarkan
Para mata yang memandang
Jika kau dijadikan taman di depan rumah
Sayang … kau kotor dan tak berbunga
Karena tempatmu dibawah sandal para makhluk yang lain