Sabtu, 23 April 2011

Geladak Sastra, Community Culture, dan Perluasan Apresiasi Sastra | Dimuat Serambi Budaya Radar Mojokerto, 10 April 2011

Geladak Sastra, Community Culture, dan Perluasan Apresiasi Sastra

Oleh : Nanda Sukmana*

            Tiba – tiba saya ingin menulis tentang apa saja yang berkaitan dengan Geladak Sastra. Entah, motif apa yang mendorong saya untuk menulis forum diskusi sederhana yang rutin dihelat Komunitas Lembah Pring ini sejak 28 Maret 2010. Selama itu pula mereka telah menggelar diskusi sastra sebanyak 16 kali. Itu berarti diskusi digelar pada setiap bulannya, sasampai beberapa minggu terakhir diskusi gencar dilakukan. Adalah Fahrudin Nasrulloh dan Jabbar Abdullah sebagai lurahnya _ lah yang menggawangi lahirnya forum diskusi yang rata – rata dihadiri 20 hingga 30 – an orang pada setiap sesinya.

Baiklah, perkenalan saya dengan mereka pertama kali saat rekan – rekan Komunitas Tombo Ati mementaskan lakon Lebedinaya Pesna (Anton Chekov) di Gedung Bioskop Plasa, Sabtu, 10 Mei 2008. Saat itu, Jabbar mengenakan kaos tipis, saya lupa warnanya dan memakai kupluk sleret – sleret atau hitam polos yang selalu dipakainya sampai saat ini. Dan sampai sekarang Jabbar masih kelihatan cungkring. Beda lagi dengan Fahrudin kalau dulu kecil kurus, sekarang badannya bohai. Celananya pas sesak. Yang tak berubah hanya brengosnya nyrongot – nyrongot. Nah, pascaperkenalan itulah saya mulai mengenal tulisan – tulisan Fahrudin yang dahsyat, sedangkan Jabbar, lama kelamaan mulai mengikuti jejak Abdul Malik, networker kebudayaan dari mojokerto yang sangat militan.

Oleh karena itu, sudah sewajarnyalah saya harus mengapresiasi kerja keras mereka berdua. Mereka itu seperti martil – martil yang siap memalu siapa saja, tak lain dan tak bukan demi terbukanya ruang perluasan apresiasi sastra di Jombang khususnya. Bahwa intensitas perluasan sastra harus dipercepat oleh siapa saja, di mana saja dan kapan saja, begitu kira – kira saya membaca pikiran mereka. Senyata – nyata Komunitas Lembah Pring telah menjadi magnet bagi munculnya komunitas – komunitas sastra di Jombang, sehingga senyata – nyata pula perkembangan sastra di kota kecil ini sepertinya tengah mengalami fenomena menggembirakan, terutama berkait dengan kegairahan apresiasi dan penciptaan karya. Sama halnya ketika Komunitas Tombo Ati juga menjadi magnet bagi kelompok – kelompok teater di Jombang sejak 3 Agustus 1996. Meski relatif lama _ hampir 15 tahun, kelompok ini harus diakui telah memberikan kontribusi besar pada tumbuh kembangnya jagad teater Jombang. Alhasil, beberapa tahun terakhir banyak bermunculan kelompok – kelompok teater independent di ’’ibukota ludruk’’ ini _ meminjam judul jurnal sastra Jombangana, Komite Sastra Dekajo.  

Semakin maraknya ruang sastra di tengah – tengah masyarakat, tentu saja akan menghadirkan atmosfer tersendiri, terutama bagi munculnya media alternatif ekspresi publik guna mengimbangi mekanisasi sifat dan perilaku sebagai dampak dari industrialisasi di segala sektor kehidupan warga. Memang ide tersebut terkesan klise dan utopis bila kita melihat kembali kenyataan masih minimnya apresiasi sastra di level publik. Tapi justru di situlah tantangan yang harus dijawab oleh para pegiat sastra di Jombang. Dan saya pikir, Komunitas Lembah Pring sudah memulainya, meski terkadang untuk melihat kerja keras mereka begitu mengharukan sekaligus memilukan. Dengan sajian apa adanya, tikar digelar, intel datang, buku – buku dipajang hingga sesuatu dilahirkan, Fahrudin menyebutnya silaturahim dan pertemuan.    

            Lepas dari itu, salah satu strategi yang bisa diusahakan untuk membantu perluasan jejaring sastra di tengah – tengah masyarakat adalah penciptaan budaya komunitas (community culture). Secara sederhana konsep budaya komunitas bisa dimaknai sebagai bentuk usaha yang dilakukan secara intens dan terus – menerus yang akan memperkuat basis kesastraan di tataran komunitas. Komunitas di sini bisa dimaknai dalam dua kategori, yakni komunitas secara internal, berupa kelompok atau organisasi yang bergerak dalam apresiasi dan penciptaan karya sastra dan (baik di dalam atau di luar sekolah, pesantren, kampus) dan komunitas secara eskternal, berupa kelompok publik yang hendak dijadikan sasaran perluasan apresiasi sastra.

            Terbentuknya beberapa komunitas sastra di Jombang, harus dianggap sebagai gejala positif yang akan menggiring sedikit pandangan publik terhadap eksistensi sastra yang selama ini kurang mereka perhatikan. Guna memperteguh pandangan itu, komunitas sastra, secara internal, mesti melakukan pematangan – pematangan dalam proses tertentu yang didukung beberapa orientasi.

Pertama, orientasi apresiatif, berupa penguatan wacana untuk mengapresiasi sebuah karya sastra, baik puisi, cerpen, novel, atau drama. Pemahaman apresiatif terhadap sebuah karya akan mengarahkan anggota komunitas pada keragaman makna karya sehingga akan memunculkan perdebatan dalam lingkaran diskusi yang akan semakin mematangkan pemaknaan mereka terhadap sastra, di samping untuk mengisi kebutuhan batin.

Kedua, orientasi penciptaan, berupa workshop dan pendampingan dalam menciptakan sebuah karya. Semakin banyaknya karya yang dihasilkan oleh para anggota sebuah komunitas, sesederhana apapun bentuknya, akan semakin menambah semangat kreatif. Yang perlu diingat adalah kesadaran untuk memberi dan menerima kritik karena itu akan berguna dalam pembentukan jati diri karya. Bagi kalangan penulis pemula, apresiasi di komunitas akan memunculkan rasa percaya diri ketika harus berhadapan dengan publik yang lebih luas.

            Langkah berikutnya ketika budaya apresiatif dan penciptaan sudah terbentuk adalah bentuk usaha untuk memperluas komunitas penikmat sastra. Selama ini, diakui atau tidak, penikmat sastra masih terbatas pada mereka yang berbasis pendidikan, meski juga sangat terbatas. Khalayak di luar basis pendidikan juga mesti disapa, karena hal itu akan membantu sosialisasi makna humanitas sastra.  

            Untuk menggagas publik yang lebih luas, komunitas sastra harus mampu melakukan pembacaan awal terhadap kemungkinan-kemungkinan tentang karakteristik calon penikmat yang dibidik. Memang langkah ini membutuhkan kesabaran yang luar biasa dan sedikit usaha publikasi yang tidak mudah. Para pegiat sastra komunitas harus mampu meyakinkan mereka bahwa acara yang akan mereka hadiri mempunyai daya tawar tersendiri.

            Diskusi sastra dan seni rupa bersama Afrizal Malna dan Titarubi yang dihelat di ruang Bung Tomo, Pemkab Jombang, Minggu (10/4) merupakan strategi cerdik guna menyosialisasikan humanitas sastra bagi khalayak, apalagi konon sebagai pengulas buku Perjalanan Kedua : Antologi Tubuh dan Kata karya Afrizal Malna adalah Bupati Jombang. Dan menurut saya, ini baru luar biasa. Tambah luar biasa ketika acara tersebut juga dihadiri oleh penjabat – penjabat pemkab yang lain, direktur perbankan, pengusaha – pengusaha kaya, petani, pedagang, buruh pabrik, guru, dosen, semuanya tumplek blek di sana. Dan lagi – lagi Komunitas Lembah Pring menjadi salah satu penggagas di belakangnya. Mereka berhasil menjaring, memikat, dan memaksa munculnya sinergitas antarlintas komunitas, pemerintah, swasta, semoga media juga, meskipun dalam konteks itu peran pimpinan Dekajo yang bersahaja juga tak kalah cerdiknya dan harus diperhitungkan.

            Dan jika keberadaan kondisi ini dapat terus bertahan dan meluas akan semakin mendorong terciptanya kerja budaya antarkomunitas lintas disiplin ilmu yang saling silang memberikan gagasan – gagasan inovatif terhadap keberlangsungan masa depan berkebudayaan kita.

Terakhir, jika ingin membangun sebuah wilayah sastra yang kondusif, tentunya harus dibarengi dengan penciptaan budaya komunitas, sehingga suatu saat akan tercipta dinamika. Dan dinamika harus dimaknai sebagai pergesekan karya yang positif. Dan sesungguhnya, untuk itu, saya berharap bahwa Geladak Sastra selalu menjadi lembah kreativitas, berbagi dan berkomunikasi bagi para anggota dan masyarakatnya. Entah sampai kapan. Perlu uji waktu.

Lalu bagaimana kabar gedung kesenian? ’’Gak onok hubungane kalee guk,’’ seorang teman berseloroh dari pinggir meja kerja saya.
_________
*Manajer Artistik Komunitas Tombo Ati, bekerja sebagai staf pengajar di STKIP PGRI Jombang.

Hari Teater Sedunia, 27 Maret 2011 | CATATAN KECIL TEATER PELAJAR DI MOJOKERTO

Hari Teater Sedunia, 27 Maret 2011
CATATAN KECIL TEATER PELAJAR DI MOJOKERTO
Oleh : ACHMAD SAIFUL ANAM*

Minggu, 27 Februari 2011 sekitar jam 4 sore saya mendapat sms dari Cak Chamim Kohari yang mengabarkan bahwa Minggu malam ada pementasan teater hasil workshop dari pelajar yang juga santri di Pondok Pesantren Darul Falah Jerukmacan Kecamatan Gedeg. Segera saya jemput Cak Abdul Malik di perpustakaan Banyumili di Kampung Kradenan dan meluncur ke balai desa Japanan Lor tempat kegiatan berlangsung. Sesampai di lokasi, pentas sudah dimulai dengan baca puisi secara bergantian dari peserta workshop. Pentas hasil workshop pun dimulai. Terbagi menjadi 5 kelompok pemeranan, masing-masing: kelahiran, tanah, api, perang dan perdamaian. Meskipun cukup dominan dengan teater gerak dan minim dialog, namun jalan cerita cukup mudah diikuti. Seusai pementasan Cak Chamim Kohari selaku kepala sekolah, mengatakan bahwa pementasan tersebut merupakan hasil dari workshop teater yang diadakan oleh pihak pondok pesantren selama 3 hari dari tanggal 25-27 Februari 2011. Sebagai pemateri adalah Dody Yan Masfa, dari Teater Tobong dan Teater Doyan Rondo, Surabaya. Sementara itu Dody Yan Masfa, di sela sela memberikan materi workshop tak lupa mengabarkan ke jejaring komunitas teater lewat statusnya di akun facebook Teater Tobong.
Semangat untuk lahir dan berapresiasi didunia teater tampak diwajah santriwan-santriwati, dalam sesi diskusi yang digelar sesuai pementasan hasil workshop teater. Sebagian besar menyatakan kegembiraan ketika pertama kali berakting di panggung. Demikianlah gambaran awal dan kekinian kehidupan teater pelajar di Mojokerto.
Pengalaman berikutnya dalam mendokumentasikan pentas teater yang cukup berkesan adalah di even “ SCREAM” (Sooko’s Creativity Art and Music) pada hari Jum’at tanggal 4 Maret 2011. Digelar oleh SMAN Negeri 1 Sooko Kabupaten Mojokerto. Peserta kategori teater sebanyak empat grup teater pelajar.
Pementasan pertama dari Teater Payung Hitam SMAN 1 Sokoo Mojokerto dengan naskah Gelap, karya dan sutradara Edy Subianto selaku pembina Teater Payung Hitam. Kedua oleh Teater Incanda Mirror Theater dari SMAN 2 Kota Mojokerto dengan naskah Pengaduan Topeng, karya dan sutradara Andrian Dwi Cahyono (Chigusa Modjo). Ketiga oleh Teater Bintang dari SMAN 1 Mojosari naskah Amarah, karya dan sutradara M. Nur Badri (Mamack). Sajian terakhir oleh Teater Samudra Illahi dari MAN Sooko Mojokerto yang mengusung naskah Safa, karya Agus Jombang dan disutradarai oleh Bagus Yuwono (Mahayasa). Penampilan terbaik pertama diraih oleh Teater Bintang dari SMAN 1 Mojosari. Dalam amatan saya, panggung pementasan kurang maksimal karena sepanggung dengan Festival Band yang juga merupakan bagian dalam rangkaian kegiatan “SCREAM”. Meskipun demikian, beberapa peserta malah memilih pentas di depan panggung band. Riuhnya sorak sorai antara peserta festival band dan penonton teater juga menjadi tantangan tersendiri dari festival teater kali ini. Adziani Heramurti (Hera) salah satu panitia dan ketua ekstrakurikuler Teater Payung Hitam SMAN 1 Sooko Mojokerto mengatakan, bahwa acara ini merupakan bukti kebangkitan teater pelajar di Mojokerto. Teater di Mojokerto dikatakan mati tapi tidak mati dan dikatakan hidup namun sepi pertunjukan. Untuk itulah, Teater Payung Hitam memberi ruang kepada teater pelajar untuk berekspresi untuk menunjukan bakat berteater dan kreativitas.
Dari dua peristiwa teater di atas, sementara saya simpulkan bahwa pelajar dan santri di Mojokerto masih meminati seni teater. Kesimpulan tersebut didukung juga dari catatan diagenda saya, ternyata masih sederetan teater pelajar yang masih bertahan. Antara lain: Teater Q-TA SMA PGRI I Kota Mojokerto yang pernah mementaskan musikalisasi puisi berjudul Indonesia, karya Hamid Jabbar dalam ajang Mojokerto art Festival (Moral) tahun 2009 di halaman Dewan Kesenian Kota Mojokerto; mengikuti Pekan Seni Pelajar se Kota Mojokerto tahun 2010 di SMAN 2 Kota Mojokerto dengan naskah Ande Ande Lumut dengan sutradara Saiful Bakri; menjadi panitia dalam launching Antologi Puisi Afrizal Malna di SMA PGRI 1 Kota Mojokerto (bekerja sama dengan Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto); SMA Muhammadiyah Kota Mojokerto mengikuti Festival teater Pelajar se Jatim di Universitas Negeri Surabaya dengan naskah Wek Wek, karya D Djayakusuma dan sutradara Saiful Bakri; Teater Bintang SMAN Mojosari; Teater Air SMAN 1 Bangsal; Teater Incanda Mirror Theater SMAN 2 Kota Mojokerto; Teater Moeda SMAN 3 Kota Mojokerto; Teater Taman SMA Tamansiswa Mojokerto; Teater Jingga SMAN 1 Puri Kabupaten Mojokerto; Teater Satya Wikusama SMAN Gedeg Kabupaten Mojokerto; Teater Samudra Illahi dari MAN Sooko Mojokerto; Teater Payung Hitam SMAN 1 Sokoo Mojokerto; Teater Senja 789 MTs Smesta 789 Brangkal Kabupaten Mojokerto; Teater Kentrung SMAN Gondang Kabupaten Mojokerto.
Dari sederetan teater pelajar di atas, dapatlah saya rangkum beberapa hal: Pertama, Kurangnya informasi tentang even festival teater pelajar baik diadakan di Mojokerto maupun luar kota. Kedua, sebagian besar anggota teater pelajar adalah wanita sehingga cukup menyulitkan dalam memilih naskah. Ketiga, minimnya dana dari sekolah. Keempat, kurangnya sumber daya manusia pembina teater.
Melalui artikel sederhana ini, saya ingin mengajukan beberapa saran dan masukan demi kemajuan kehidupan teater pelajar di Mojokerto. Pertama, tiap kelompok teater pelajar memiliki email. Bermula dari email akan dilanjutkan dengan aktivitas pembuatan blog, akun di facebook, twitter dan gabung di milis teater. Informasi kegiatan festival teater maupun naskah teater dapat dikirim soft copynya lewat email. Murah dan lebih efisien. Kedua, mengadakan workshop teater untuk meningkatkan sumber daya manusia.
Lidhie Art Forum Mojokerto, sebuah komunitas gabungan teater pelajar di Mojokerto, beberapa kali mengadakan workshop teater bagi teater pelajar. Beberapa narasumber yang pernah menjadi pemateri adalah Zainal Abidin Domba (Jakarta), Herry W Nugroho (Jakarta), AGS Arya Dipayana (Teater Tetas Jakarta), Luhur Kayungga (Teater Api Indonesia), Kurniasih Zaitun (Komunitas Hitam Putih Padangpanjang Sumatera Barat), Ragil Sukriwul (Malang), Antok Agusta (Bangil), Andhy Kephix (Komunitas Suket Indonesia), Fatah (Surabaya), Rita Matu Mona (Teater Koma Jakarta), Kusworo Bayu Aji dan Retno Ratih Damayanti (Teater Garasi Yogyakarta), Bambang Prihadi (Teater Sahid Jakarta), Ical Siregar (Jakarta), Mijil Pawestri (Yogyakarta), Juma'ali (STKW Surabaya). Ketiga, mengadakan pementasan tunggal.
Membuat suatu pertunjukan karya teater memang membutuhkan energi yang besar dan menguras dana yang cukup banyak. Namun proses menyiapkan sebuah pentas merupakan praktek nyata dari seluruh materi teori yang telah diberikan dalam diklat dan workshop.
Saya mencatat hanya satu dua teater pelajar di Mojokerto yang telah mengadakan pentas teater tunggal, antara lain: Teater Senja 789 MTs Smesta 789 Brangkal Kabupaten Mojokerto mengangkat repertoar Robohnya Surau Kami karya AA Navis.
Keempat, mengikuti festival teater pelajar, jika pihak sekolah memberi ijin dan mendukung dana. Dengan mengikuti festival teater pelajar semisal yang diadakan Taman Budaya Jawa Timur, kelompok teater pelajar akan berinteraksi dengan berbagai komunitas teater pelajar lainnya, dapat saling sharing informasi maupun berbagi pengalaman.
Beberapa teater pelajar di Mojokerto yang cukup sering mengikuti festival teater pelajar antara lain: Teater Air SMAN 1 Bangsal meraih Penampilan Terbaik dalam Festival Teater Pelajar di Unesa Surabaya; Teater Taman SMA Tamansiswa Mojokerto mengikuti Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jatim di Surabaya; Teater Jingga SMAN 1 Puri Kabupaten Mojokerto mengikuti Festival Teater Pelajar Nasional di IKIP PGRI Semarang tahun 2008 dengan naskah Orang Kasar, karya Anton Chekov sutradara Bagus Mahayasa, dan meraih predikat Penampilan Terbaik dalam Festival Monolog yang diadakan oleh Unisda Lamongan; Teater Samudra Illahi dari MAN Sooko Mojokerto mengikuti Festival Teater Pelajar Nasional di IKIP PGRI Semarang tahun 2010 dengan naskah Lena Tak Pulang, karya Muram Batubara dengan sutradara Achmad Saiful Anam (Glewo).
Kelima, menonton pentas teater sesering mungkin sebagai referensi “visual”. Jika dana terbatas, ya.. cukup menonton dokumentasi pertunjukan teater semisal Teater Koma Jakarta yang menjual VCD dokumentasi pentas mereka yang rata-rata dijual seratus ribu rupiah pe-keping atau bisa pinjam ke sesama jejaring teater.
Keenam, banyak mengakses segala hal yang berkaitan dengan dunia teater semisal buku, naskah, katalog, foto, rekaman, poster. Semisal buku Nyanyian Lorong Gelap kumpulan dua naskah teater karya Bagus Mahayasa (Lidhie Art Forum), Teater Absurd karya Martin Esslin (Pustaka Banyumili, Mojokerto), Yuk Bermain Teater karya Hardjono WS (Desa Jatidukuh Kecamatan Gondang), Pengemis Itu (drama satu babak karya Anton de Sumartana, alumni SMA TNH Mojokerto), Sangkakala dari Timur (naskah Gatot “Sableng” Sumarno, Teater Kaca Mojokerto).
Demikianlah sebagian catatan kecil saya dalam mendokumentasikan dinamika teater pelajar di Mojokerto. Saya masih optimis bahwa teater pelajar akan berkembang lebih pesat di masa mendatang. Salam teater.
___________
*Achmad Saiful Anam (Glewo), penonton teater. Bergiat di Lidhie Art Forum Mojokerto dan Komunitas Pondok Jula Juli Mojokerto. Tinggal di Mojokerto.

Jumat, 21 Januari 2011

Puisi-Puisi Jurnal Jombangana

Puisi-Puisi Jurnal Jombangana, Nov 2010


Sabda dan Cinta

Oleh: Ali Subhan


glamor mata melihat gambarmu
menghayal jika ada hasrat membunuhku
mengabaikanmu adalah perjuangan terhebat dalam hidupku
hanya untuk merelakan jika dirimu bukan takdirku
bak lidah berlapis dua
bisa membawa cinta menjauh
bisa mengalirkan kebencian di setiap jaringan sel darah
seperti alam yang waktunya bisa berhenti
untuk memberikan ruang bagi dirimu
melihat jalan berembun…. membeku…. menetes ranting
seperti paruh meneguk air dari sumber padang pasir
mencari cahaya dalam sepi
membagi sendiri untuk sepi seperti tiada henti

tidak…. ini harus diakhiri…
tatap matanya telah melumpuhkan benang retinaku
keanggunannya adalah muslihat dibalik kerudungnya
sihir katanya memalingkanku dari hukum jagad raya
kebaikannya bermotif nafsu setan..
aku tidak ingin membagi selain denganNya
aku hanya butuh menggandengnya
untuk bersama menghiba dikaki kekuasaanNya
_________

Amanda Al Kautsar, 2008

Oleh: Robin Al Kautsar

telah lahir anakku yang kedua
ponsel se-dunia menuju ke arahku
“Eureka!”

seperti kakaknya
segera kubawa ia ke mihrab nabi
“Ya Tuhan
jadikanlah pula manusia ini
pembela risalahMu”

di bawah lengkung masjid yang sepi
di 17 anak tangganya yang gagah
para malaikat sudah menunggu
dengan seruling, rebana, harpa
tambur dan timphany
mereka beterbangan memainkan musik purba
“Selamat datang, wahai
kekasih Allah yang baru!”

keesokan paginya
marbut menemukan rangkaian mawar jingga
dan ia bertekad merahasiakannya

Jombang, 23 Juni 2008
__________

Merapi

Oleh: Yusuf Suharto

Lahar panasmu telah mengubah semuanya
Para makhluk dan juga manusia berlarian
Meenyelamatkan diri sebisanya

Siapakah yang tahu gejolak alam
Ketika memang telah ditentukan Tuhan

Wahai manusia
Siapakah yang sanggup menghindarkannya
Mayaat-mayat bergelimpangan
Dan tanpa perbedaan

Rasanya seluruh isi alam ikut menangis
Melihat fenomena hidup yang tak terkuasakan

Bukannya Tuhan itu kejam
Tetapi itulah kemestian
Betapapun pahitnya

Bahwa di balik kedukaan
Ada sejuta hikmah
Yang menuntun manusia menjadi berteguh iman
___________

Tanahku Bukan Milikmu

Oleh: Anjrah Lelono Broto

Bukankah setiap swara miliki gaungnya sendiri? Bukankah
tiap swara yang berdengung yang menyentak yang menjuntai niscaya
akan mencumbu buluh di rerimbun pring petung?
Begitu juga swaramu, anak-anakku.

Bukankah setiap mimpi miliki ujungnya sendiri? Bukankah
mimpi yang berkecambah yang meruah yang mengalir niscaya
akan tersimpan di laci memori pring petung?
Begitu juga mimpimu, anak-anakku.

Bukankah setiap rekah tanah miliki airnya sendiri? Bukankah
rekah tanah yang terlalu memberi ruang yang memberi dendang yang basah niscaya
akan mengubur akar, dahan, hingga dedaun pring petung?
Begitu juga dengan rekah tanah kelahiranmu, anak-anakku.

Berselang waktu,
rerimbun, laci, akar, dahan, hingga dedaun pring petung tersisa bongkah kisah
dalam masa indah tanah tumpah darah.
Berselang waktu, anak-anakku.

Swara-swaramu, mimpi-mimpimu, dan rekah tanah-tanahmu bersendawa dengan nestapa
persenggamaan berlebih tanah dan air. Dhapuran pring petung di sisi kanan
balairung rumah kita tinggal cerita lama terkubur buaian duka lumpur.
Lumpur menjengah telah merampas paksa semua yang berharga dalam hidup kita.

Girilusi, Mei 2010
_____________

Hujan Tadi Malam

Oleh: Zaenal Faudin

Hujan es semalam pecahkan genting
apakah kau dengar petir menyambar
pohon kelapa?
Daun jambu diam berwibawa:
“Kau hanya mimpi, anak muda.”
semalam petir menggelegar menyambar
pohon kelapa, pikirku

Tanah basah segar isyaratkan bahasa
pada kecambah yang semi pagi ini
“Hujan semalam bukanlah mimpi buruk,
hanya hati yang remuk serasa digiring
ke pembuangan Siberia.”

Aku berfikir, apakah tadi malam hujan es
jatuh pecahkan genting?

11 Desember 2007
__________

Rumput; Manfaat dan Kehinaanmu

Oleh : Lailatul Muniroh

Sungguh heran aku …
Kau tipis kecil …
Kau pun mudah tertiup angin
Kau begitu gampang dibabat
Karena kau berakar pendek dan lunak
Kau kesat
Kau begitu hina
Sejak lahirmu kau berada dibawah sandal para manusia
Kau begitu tak beraturan
Karena kau tumbuh dimana-mana
Usiamu pendek
Bagai bulu ketiak manusia yang mudah sekali dicabut
Bentukmu pun bermacam-macam
Hijau, kuning, coklat, violet
Kau mengkilat dedaunmu
Kau bercabang dan bertangkai
Meski begitu kau ciptaan Tuhan
Tiada yang menduga akan manfaatmu
Dengan manfaatmu …
Hewan ternak bisa memakanmu dengan lembut dan lahap
Bahkan manusia pun bisa memanfaatkanmu
Dan kau dapat juga sebagai penahan air
Karena warnamu hijau
Kau sungguh menyegarkan
Para mata yang memandang
Jika kau dijadikan taman di depan rumah
Sayang … kau kotor dan tak berbunga
Karena tempatmu dibawah sandal para makhluk yang lain