Sabtu, 26 November 2011

Teknologi Informasi: Antara Keinginan dan Kebutuhan


Teknologi Informasi: Antara Keinginan dan Kebutuhan[1]

Oleh : Jabbar Abdullah[2]

Sebelumnya, saya akan berkisah tentang warung kopi. Sepintas, Information Technology (IT) dan warung kopi memang tidak nyambung. Tapi bagi yang peka, warung kopi tanpa kita sadari merupakan tempat terjadinya sirkulasi teknologi informasi (TI), apapun bentuknya. Mulai dari babakan politik, ekonomi, sosial dan bahkan seni-budaya. Warung kopi tidak hanya menyediakan secangkir kopi, teh, pisang goreng dan sejenisnya. Warung kopi juga tempat mengaduk informasi yang disuguhkan dengan rupa-rupa teknologi. Warung kopi juga bisa menjadi tempat “menggoreng” ide atau gagasan. Intinya, setiap tempat berpotensi untuk kita jadikan sebagai media mengolah segala hal yang terkait dengan persoalan teknologi informasi.
Tak dipungkiri, setiap detik teknologi yang diciptakan manusia senantiasa berkembang dengan pesat. Produk teknologi pun bervariasi. Semua dicipta menyesuaikan kebutuhan hidup manusia. Namun, jika perkembangan teknologi tidak disikapi dengan tepat (baca: sesuai dengan fungsinya), maka akan terjadi disfungsi, bahkan bisa jadi akan menjadi senjata makan tuan. Disadari atau tidak, perkembangan teknologi ternyata berimbas pada terciptanya budaya instan (baca: siap saji) terkait dengan pemenuhan sebuah kebutuhan.
Jika kita menyikapi kebaruan teknologi dengan instan, maka bersiaplah untuk menjadi budak teknologi. Orang yang sudah menjadi budak teknologi akan terjangkit penyakit egois, individualis dan hedonistis. Agar tidak terserang ketiga penyakit tersebut, maka kita harus memperlakukan teknologi sebagaimana mestinya – meminjam istilahnya WS Rendra – agar kehidupan tetap berjalan berimbang dan wajar.
Dalam keseharian, kita tidak terlepas dari yang namanya peristiwa memberi dan menerima dengan segala bentuknya. Saat kita mengalami dua peristiwa ini, kita akan dihadapkan pada dua pilihan, yakni antara keinginan dan kebutuhan. Jika peristiwa tersebut terkait dengan informasi, maka informasi yang kita berikan atau kita terima tersebut selanjutnya mau disikapi dengan cara yang bagaimana. Jika kita memposisikan sebuah informasi hanya sebatas keinginan, maka sikap kita cenderung diam alias pokok’e eruh. Sebaliknya, jika kita menjadikan informasi tersebut sebagai sebuah kebutuhan, maka kita akan cenderung berupaya untuk bagaimana caranya agar informasi tersebut bisa dengan segera tersebar dan akhirnya diketahui oleh khalayak.
Terkait dengan memberi dan menerima informasi, kita harus pandai-pandai memilih dan memilah. Di sini kita juga harus punya pertimbangan tentang media dan kepada siapa kita harus berbagi informasi tersebut. Nah, di sinilah pentingnya kita membangun jejaring. Jika kita telah memiliki jejaring, maka kita tidak akan kesulitan dalam urusan memberi dan menerima informasi. Urusan membangun jejaring terkait erat dengan pengolahan data yang kita miliki. Jika kita tak memiliki jejaring, maka bisa dipastikan data berupa informasi tersebut akan mati, minimal – meminjam istilahnya Afrizal Malna – tidak berbunyi.
Data akan datang dari arah yang tidak pernah kita duga. Pertanyaan paling mendasar saat kita menerima atau memiliki data adalah, terus diapakno?
Memberi bunyi pada data yang kita miliki bukanlah persoalan mudah, meskipun medianya berlimpah. Adakalanya kita kebingungan saat memiliki data yang melimpah. Mau kita apakan data itu? Data itu mahal dan memiliki kekuatan yang besar. Karena itu tidak semua orang atau komunitas akan dengan mudah berbagi data. Kecerobohan dalam mengolah data akan berdampak langsung dengan bangunan jejaring kita. Data ibarat zakat. Di dalam data itu sendiri juga terdapat mustahiq, baik personal maupun kolektif, yang berhak menerima zakat data. Meskipun pada prinsipnya setiap orang memiliki hak atas apa yang kita miliki, namun orang lain tidak berhak memaksa kita untuk memberikan apa yang kita miliki. Semua dikembalikan pada kesadaran bahwa seseorang atau komunitas itu tidak bisa hidup sendiri. Untuk bisa berdiri di atas kakinya sendiri, seseorang atau komunitas membutuhkan kerjasama dengan yang lainnya.
Untuk urusan mengolah, tidak semua orang mampu melakoninya. Terlebih mengolah dan menghidupi (baca: memberi bunyi) pada data yang dimiliki. Di era yang serba “klik” dan “touch” ini, kita banyak ditawari pilihan-pilihan media yang bisa dimanfaatkan terkait dengan urusan memberi bunyi pada data. Media online, baik blog maupun website misalnya, menawarkan banyak sekali species teknologi yang kesemuanya bisa dijadikan sebagai ladang menanam dan membunyikan data. Ada Facebook, Twitter, Blogspot, Wordpress, Multiply, netlog, dan masih banyak lagi. Seluruh species teknologi tadi, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, memberi ruang bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya secara gratis. Yang terkini, sampai-sampai ada yang rela memberi fasilitas WiFi agar warungnya bisa menarik konsumen yang lebih banyak. Artinya, kalau kita memang serius menggeluti dunia IT maka pertanyaannya adalah sejauhmana kita mampu mengolah ruang dan mengolah data yang kita miliki?
Dari sekian banyak media, silahkan dipilih mana yang menurut kita lebih efektif untuk dimanfaatkan sebagai alat untuk membunyikan data. Apapun pilihannya, yang terpenting adalah kita harus mampu untuk istiqamah, baik dalam memberi maupun menerima. Upaya berbagi dan menerima data terkait erat dengan yang namanya updating, yakni upaya mencari kebaruan-kebaruan tentang data. Jika kita malas memperbarui data, maka kita akan ketinggalan kereta.
Kiranya cukup sekian uraian tentang urusan Information Technology (IT). Yang harus selalu kita ingat adalah, bahwa dalam urusan IT , musuh utama kita adalah kemalasan.
--------------

1) Makalah disampaikan dalam Pelatihan Teknologi Informasi, tanggal 26–27 November 2011, pukul 14.00–17.00 Wib.
2) Lurah Komunitas Lembah Pring Jombang 

Rabu, 01 Juni 2011

Federasi Teater Indonesia - SAYEMBARA NASKAH DRAMA NASIONAL FTI PELAJAR & MAHASISWA

Federasi Teater Indonesia
SAYEMBARA NASKAH DRAMA NASIONAL FTI PELAJAR & MAHASISWA

FTI berkehendak untuk menggairahkan kembali semangat menulis naskah drama, merangsang para penulis muda untuk juga bergiat di dalamnya, dan pada akhirnya meningkatkan perbendaharaan naskah Indonesia. Tidak tertutup pula harapan naskah-naskah baru tersebut dapat menjadi alternatif terutama bagi pertunjukan yang semakin dapat mewakili hidup dan persoalan-persoalan kemasyarakatan mutakhir kita.
Tema
Tema bebas, namun diharapkan yang “berakar” berkonteks dengan kekinian Indonesia.
Waktu Kegiatan
Pendaftaran dimulai awal Mei 2011, batas pengiriman terakhir tanggal 30 Juli 2011 ( cap pos).
Dewan juri:
Afrizal Malna (Satrawan),Nano Riantiarno (Teaterawan), Radhar Panca Dahana (Pembina Teater)
Tempat
Sekretariat FTI, Jl. Muchtaruddin 20 B Komplek PU Pasar Jumat Jakarta Selatan
121310 Indonesia, Telp. 021-8637 4965, Email : ftindonesi@yahoo.com
Hadiah
Pemenang Terbaik dari Terbaik : Rp. 10,000,000,-
plus tropi dan piagam penghargaan
Pemenang 5 naskah drama Terbaik : masing-masing mendapatkan
Rp. 5000,000,- plus tropi dan piagam penghargaan
Ketentuan Peserta:
1. Isi Naskah Tidak Menyinggung SARA
2. Pelajar dan mahasiswa Indonesia
3. Tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku
4. Jumlah HALAMAN NASKAH, MINIMAL 15 haL. Maksimal 40 hal. (Ukuran kertas A4, 2 Spasi, Arial), Berbahasa Indonesia.
5. Naskah dikirim dalam file digital (soft copy) 1 Buah dan 3 rangkap berjilid (hard copy) dengan melampirkan :
  • Photocopy Kartu Tanda Pelajar /Mahasiswa
  • Biodata Penulis
  • Surat pernyataan bahwa naskah yang dikirim adalah asli, belum pernah diterbitkan dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis, bermaterai 6000.
6. Naskah drama dikirim ke panitia dengan kode: SNPND FTI Pelajar/Mahasiswa 2011 ke sekretariat FTI.
____________

Sabtu, 23 April 2011

Merajut Jejaring Seni Budaya Melalui Teater dan Seni Rupa @ Dimuat SERAMBI BUDAYA RADAR Mojokerto, Minggu, 17 April 2011

Merajut Jejaring Seni Budaya Melalui Teater dan Seni Rupa

Oleh : Jabbar Abdullah*

Kurang lebih pukul 08.50 Wib, rombongan Tim Indonesia Art Contemporary Network (iCAN) yang terdiri dari Afrizal Malna, Titarubi, Antariksa dan Stephanie Goeltom (Puni), tiba di area Kantor PEMKAB Jombang untuk kemudian menuju lantai dua tempat AULA Bung Tomo berada. Awal kali memasuki pintu menuju ruang diskusi, tim iCAN mendapat suguhan awal berupa pameran fotografi dari Jombang Fotografer Community (JFC). Naik ke lantai dua, kembali mendapat suguhan pameran seni rupa dari Komunitas Pelukis Jombang (KOPI Jombang).

Sebelum kedatangan tim iCAN, suguhan paling awal untuk pengantar menuju diskusi, kelompok musik SKETIKA telah terlebih dahulu hadir dan melagukan beberapa lagu. Kedatangan tim iCAN langsung disambut oleh Agus Riadi (Ketua Dewan Kesenian Jombang) yang ditemani oleh Cak Nasrul Ilah dan Inswiardi (moderator), Fahrudin Nasrulloh (narasumber teater), dan Khoirudin (narasumber senirupa).

Jombang menjadi tuan rumah kelima dalam rangkaian Road Show Forum Teater dan Seni Rupa Jatim, setelah Malang , Jember, Surabaya dan Mojokerto. Acara ini adalah hasil kerja bareng antara iCAN dan Dewan Kesenian Jombang (DeKaJo) yang didukung oleh Komunitas Lembah Pring,  Komunitas Pelukis Jombang, Jombang Fotografer Community (JFC), Suwarna Art Space (SAS), Perhutani dan beberapa donator dari instansi swasta di Jombang. Secara resmi, diskusi dimulai sekitar pukul 10-an. Sesuai rundown acara, pembukaan dibuka oleh saudara Bakir (Komunitas Tombo Ati). Satu-persatu runutan acara dibacakan. Seusai pembukaan, Agus Riadi (Ketua Dewan Kesenian Jombang) selaku "shohibul hajat" dipersilahkan memberikan sambutan. Selanjutnya MC menyerahkan waktu sepenuhnya kepada moderator diskusi.

Moderator mulai beraksi. Cak Nasrul Ilahi memberikan gambaran awal tentang kondisi teater dan seni rupa Jombang. Disusul kemudian oleh Inswiardi. Ia mengawali dengan menyuarakan dialog besutan, baru kemudian memulai diskusi. Acara berlambar “Launching, Diskusi Teater dan Seni Rupa bersama Afrizal Malna dan Titarubi” ini dihadiri kurang lebih seratusan peserta, yang terdiri dari banyak atribut. Di antaranya, birokrasi (Perhutani), Pengusaha, guru-guru MGMP Seni-Budaya, Komunitas Pelukis Jombang, Jombang Fotografer Community (JFC), Desain Grafis, pelajar dan mahasiswa, serta pegiat dan komunitas teater di Jombang dan di luar Jombang. Dengan kata lain, keterlibatan telah terjadi.

“Diskusi ini sengaja didesain oleh panitia untuk tidak hanya dimiliki oleh pelaku teater dan seni rupa. Panitia berkehendak diskusi ini menjadi milik dan kebutuhan bersama atau lintas disiplin”, ujar Imam Ghozali AR , selaku ketua panitia dan Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jombang.

Imam Ghazali AR menambahkan, kegiatan ini menurutnya menarik untuk mulai merajut jejaring seni dan budaya lebih istiqamah, mengingat kita berada di ruang era jejaring.

“Saya pikir teman-teman Jombang mesti mengisi “ruang kosong” tersebut agar tidak terjebak dalam “chauvinisme lokal kekanak-kanakan” yang dapat memunculkan “rasa serba hebat””, imbuhnya, sembari menyulut rokok Dji Sam Soe kretek.

Berangkat dari situlah kemudian panitia memilih narasumber, utamanya teater, orang yang bukan pegiat teater, namun memiliki perhatian terhadap peristiwa teater yang tumbuh dan berkembang di Jombang. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan “pembacaan yang lain” atau –dalam istilahnya Fahrudin - “mata lain” terhadap teater. Panitia akhirnya menunjuk Fahrudin Nasrulloh (Pegiat Komunitas Lembah Pring, Jombang) yang kesehariannya bergulat di ranah sastra namun juga punya perhatian yang cukup terhadap teater di Jombang, baik teater modern maupun tradisi, ludruk.

Secara sederhana, Afrizal Malna mengatakan : “Setiap saat kita menemui teater. Di kamar mandi kita bertemu teater industri, teater pasar hanya lewat sabun yang kita gunakan untuk kita mandi. Di sekolah ada teater pendidikan. Di politik malah lebih banyak lagi teater. Ada kampanye, macem-macem… Teater pertama menjadi penting kalau teater kedua lahir. Kalau teater kedua tidak lahir berarti ada persoalan dalam bagaimana teater itu diproduksi."

Mengenai "pembacaan yang lain" terhadap bukunya Afrizal Malna, dalam paragraf kedua makalahnya yang berjudul “Yang Berjalan dari Kuburan Teater ke Kuburan Fiksi”, Fahrudin menulis : "Hal penting dari kehadiran buku Afrizal Malna Perjalanan Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata ini adalah bagaimana ia melihat dengan “mata lain” sebuah pertunjukan teater yang telah ditontonnya selama kurang lebih 12 tahun. Sebagai seniman teater yang pernah terlibat di Teater Sae, ia juga adalah penyair yang sudah dikenal luas dalam dunia sastra Indonesia . Pertama, saya melihat buku ini merupakan sebuah catatan tajam dengan berbagai perspektif sosiologis maupun antropologis, dan oleh sebab itu pembaca, sebagai “teater ketiga”, tidak semata melihatnya sebagai hasil reportase, namun lebih dari bagaimana kita diajak memasuki cara Afrizal menonton teater yang kemudian disebutnya sebagai “teater kedua”.

“Singkatnya, kita diajak menonton ulang dan membaca oleh Afrizal Malna seluruh peristiwa teater yang disalin dalam buku Perjalanan Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata, yang ditulisnya kurang lebih selama 15 tahun,” komentar Syaiful Anam “Glewo”, pegiat teater Lidhie Art Forum Mojokerto dan Komunitas Pondok Jula Juli yang datang bersama kawannya dari Balai Belajar Bersama Banyumili.

Berbeda dengan Fahrudin, narasumber seni rupanya, "pyur" menggeluti seni rupa. Eko Utomo selaku ketua Komite Senirupa DeKaJo, menunjuk Khoirudin yang saat ini sedang dalam proses menyelesaikan studi S-2 nya di ISI Yogyakarta . Dalam paparannya, Khoirudin lebih menekankan pada upaya bagaimana seni rupa di Jombang bisa turut ambil bagian dalam peta seni rupa, minimal di Jawa Timur. Dari sini dapat disimpulkan sementara, bahwa di sinilah pentingnya untuk segera membangun jejaring, melalui media apapun.

Terkait dengan media, Titarubi, yang sudah 20 tahun menjadi perupa, juga menguraikan gagasannya dalam berkarya yang jangan hanya berhenti pada media canvas. Seni rupa bisa dirupakan dalam banyak media. Dalam durasi 15 menit-an, Titarubi memberikan beberapa tawaran terkait dengan pengelolaan media untuk seni rupa. Ia menampilkan beberapa karya-karyanya yang didominasi seni rupa instalasi. Tiga di antaranya berupa patung berkepala gundul yang berhias kaligrafi, rangkaian manik-manik yang berwujud gaun yang dijadikan kostum tari, dan karya berjudul “Sebuah Pohon Kecil di dalam Rumah yang Belum Selesai”.

"Seni rupa seperti juga bahasa. Adalah menyalin penglihatan ke dalam gambar, ke dalam bentuk. Ia bisa jadi gambar-gambar dalam bentuk apapun," jelas Titarubi yang mempresentasikan materinya dengan menggunakan bantuan proyektor.

Di akhir sesi, giliran Antariksa yang mengudal pentingnya membangun jejaring (network) dalam berkesenian. “Seniman dan kesenian tidak dapat berdiri atau menopang dirinya sendiri. Ia membutuhkan penyanggah untuk menopang dirinya. Ditopang dengan membangun hubungan-hubungan dan jejaring lintas disiplin yang lain,” ujarnya.

Panitia juga “menyisipkan” gerakan Koin Sastra untuk Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang kondisi “kesehatannya” sedang krisis dan terancam mati.

“Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin bukan hanya sekadar pusat dokumentasi, tapi juga gambaran peradaban sebuah bangsa. Alhamdulillah. Bukunya mas Afrizal juga mendapat apresiasi yang luar biasa. Untuk penjualan di tempat, laku 8 eks. Panitia juga membeli secara khusus 10 eks. Sementara Koin Sastra berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp. 1.865.350,-. Untuk penyerahannya akan kita titipkan kepada tim iCAN,” ungkap Agus Riadi.

__________

Jabbar Abdullah, Pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang