Kamis, 08 Maret 2012

9 Pencerita yang Dibunuh Ceritanya Sendiri


9 Pencerita yang Dibunuh Ceritanya Sendiri

Fahrudin Nasrulloh*

            Mojokerto mulai bergerak lagi. Mojokerto coba diongkosi lagi. Oleh mereka-mereka yang masih bersetia menulis, dan satu-dua-tiga yang baru muncul belakangan. Sastra tampaknya tak pernah mati dari kondisi apa pun yang bahkan telah banyak mencekik para pelakunya untuk lebih jauh mengarus dalam dunianya yang semakin tak jelas. Tak jelas dalam arti bahwa rambahan estetika di dalamnya adalah pertarungan yang tiada habis dalam upaya bereksplorasi. Sekarang makin terasa dunia sastra lewat media yang makin tak terbatas, misalnya dalam jagat internet, karya lahir dan ditulis oleh ribuan penyuka mulai yang sekedar iseng-isengan sampai yang serius seriusan. Apakah ada karya monumental yang muncul seiring demokratisasi sastra yang kian tak terbatas itu? Media koran tak lagi menjadi sentral, meski pertarungan untuk menembuskan karya ke sana tetap jadi pertaruhan. Itu tak penting kiranya. Yang pasti, sastra sudah menjadi bagian yang tidak lebih asing lagi di masyarakat, untuk tidak mengatakan sastra masih saja tetap terasing dari masyarakatnya. Buktinya, apresiasi sastra sudah banyak masuk ke sekolah, kampus, dan komunitas di daerah baik di kota maupun di kabupaten.
            Membicarakan kota dan karya, cukup menarik bila kita menilik kembali Mojokerto beserta gerak sastranya dalam 5 tahun belakangan ini. Tahun 2007 sampai 2009 di Mojokerto masih dapat terasakan gerak sastranya, dan posisi apresiasi sastra yang paling menonjol adalah puisi. Banyak penyair yang bermunculan, selain yang tua-tua, sebagaimana yang disebutkan dalam pengantar kumpulan cerpen Tentang Kami Para Penghuni Sorter (2011) ini. Kemudian bisa kita cermati dalam 2010 sampai akhir 2011, kegiatan sastra nyaris senyap di Mojokerto, kecuali beberapa peristiwa sastra yang membuntut dalam agenda bulanan di Festival Bulan Purnama Wringin Lawang di Trowulan yang dihelat oleh Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto. Dalam 2 tahun itu pula, geliat sastra dalam tubuh Dewan Kesenian Mojokerto (kota) hampir tak terdengar.
Baiklah, itu cerita lumayan romantik dan agak tidak perlu jika dipanjang-panjangkan di sini. Kita langsung menuju rumah buku cerpen ini. Ada apa saja di sana dan apa yang terjadi.
Cerpenis dalam antologi ini banyak diisi oleh cerpenis asal Pacet, Mojosari, atau Bangsal, wilayah selatan Mojokerto. Sementara wilayah Mojokerto lainnya banyak dihuni penulis yang menekuni puisi. Latar sosial apakah yang tercermin dalam cerpen-cerpen mereka? Mereka menulis itu didorong oleh apa? Ini hal mendasar. Jelas riwayat mereka beda-beda, dengan niat, kondisi yang mempengaruhi, dan latar kreatif masing-masing.
Persoalan klasik menulis cerpen yang utama menurut saya adalah bagaimana sebuah cerita mampu berdaya hidup dan bergerak menceritakan dirinya sendiri di hadapan pembaca. Posisi penting pencerita bisa diistilahkan sebagai “si pelempar batu”, yang padanya hal-hal yang bersifat teknis semustinya terlebih dulu dapat ditanggulangi. Butuh ketajaman sorot mata, dan tindakan yang tepat-guna pada sasaran, karena cerpen itu ya cerita yang singkat, yang simpel, kalau perlu sekali dibaca bisa meng-KO pembaca. Contoh entengnya, paragraf pertama yang ditulis diupayakan tidak membikin bosan, sebab pasti pembaca akan segera melemparkannya ke tong sampah. Karena ini soal “dunia dalam” pada diri si pencerita, wilayah psikologis yang berpusaran di kerak otak ini bisa bercabang-cabang dan melantur ke mana-mana.
“Ini kan soal gimana mengatasi psiko-diri sesaat sebelum hendak menulis cerita, bukan?” Ini yang saya sebut sebagai “medan penanggulangan kreatif si personal”. Dan memang, di kedalaman sana, penanggulangan itu tak selesai-selesai yang justru pada titik kulminasi tertentu makin menguat bersama kegentingan yang dengan sendirinya akan terus merusak kegelisahan apa pun. Semua itu bisa dibikin jelas tampaknya, pada hal sepele sebenarnya, bagaimana sih ide cerita itu hendak diceritakan? Ini akan dengan sendirinya memberi corak pada tema, tokoh, dan konflik yang dibangun sekaligus benarkah sudah menarik, menohok, seperti kilatan, cara bercerita yang demikian yang ditawarkan? Dari situ, dan lewat beberapa cerpen dalam buku ini, kita bisa melongok, oh, adakah sesuatu yang sudah dipertimbangkan matang-matang bahwa cerita ini cerita itu telah benar-benar menjadi sebuah cerita? Ataukah sekedar berita? Atau semacam “kesan” akan peristiwa yang pernah tersaksikan saja dan karenanya dipertanyakan sudahkah pembaca menemukan “pokok cerita” di sana? Kita bisa tilik kembali cerpen-cerpen ini: “Catatan Seorang Tuna Netra” oleh Atina Sabila, “Doa Istri Tukang Semir Sepatu” oleh Jack Effendi, “Negeri Dongeng” karya Nasrulloh Habibi, “Purnama Di Tepi Sungai Brantas” karangan Rais Muhammad KS, dan “Payung” oleh Mochammad Asrori.
            Perkara gaya bercerita yang berlarat, terkesan dipanjangkan, seolah deskripsi yang dipaparkan membutuhkan yang lebih dan lebih agar pembaca nyaman dan jenak kadang justru memunculkan rasa bosan dan memutungkan pembaca untuk merampungkan cerita. Tema kerapkali menempati posisi yang perlu diperhitungkan, misalnya apa yang dinilai lebih dari sebuah cerpen jika cerita yang ditawarkan itu sesuatu yang tak jauh dari keumuman atau yang sudah biasa kita dengar atau dari kenyataan yang begitu jamak dialami khalayak. Maka dalam cerpen jika semua komposisi vital pembentuk dan pengokoh sebuah cerpen tidak digarap dengan pendalaman serius maka selanjutnya hanya akan menghadirkan hal-hal yang “permukaan” saja. Tak menembus ke inti cerita. Ke konkrit cerita.
Kekonkritan cerita sebagai gagasan yang tidak muluk-muluk bisa kita temui dalam cerpen Hardjono W.S. “Penghuni Sorter”. Ini tentang Mak Pah tukang warung kopi yang suaminya mati secara tragis lantaran soal warisan lalu ia dibunuh keponakan sendiri. Sejak kejadian itu, Mak Pah tetap bertahan berjualan untuk mempertahankan hidupnya. Meski ini cerita yang bisa kita dapati dalam berita kriminal di koran atau televisi, namun tetap asyik dibaca karena cara berceritanya yang tidak bertele-tele. Cerpen “Rebiin” dari Akhmad Fatoni, untuk sekilas tampak menyisakan problem dalam merumuskan ide dasar konflik yang dibangunnya, juga logika bercerita, namun teka-teki si tokoh suami dengan ketidak-percayaannya pada omongan si istri bahwa adiknyalah yang sesungguhnya mengguna-gunainya itu tidak menemukan korelasi logis yang realistis kenapa kekeraskepalaan itu bertahan dan modus si adik yang disangka (atau dituduh?) tersebut terjadi begitu saja. Kita bisa terpancing untuk mengulur tanya: Jangan-jangan, jangan-jangan: terjadi keliru tuduh? Atau termakan hasutan? Atau membiarkan itu terjadi untuk tujuan lain, tujuan siapa? Tiga tokoh di sini, menurut saya, jika saya menggunakan pola investigatif ala Agatha Christie: masing-masing menyimpan “motif gelap” yang susah ditebak endingnya. Bila menurusi alur logika ini, Fatoni boleh jadi telah membuat sekian seri tentang Rebiin ini.
Cerpen “Tentang Kami” karya Jr. Dasamuka ini jelas realis. Sebuah rencana pembunuhan kepada kakaknya sendiri yang berupaya secara terang-terangan dan kasar ingin merebut kekasih si tokoh. Aroma dendam menguar pekat di sini. Cerpen “Yang Dibunuh Cerita-Cerita” karya Dadang Ari Murtono juga bercorak realis yang lebih masuk ke dalam. Pola tutur yang terkesan melantur-lanturkan emosi dijalin dengan logika bahasa yang padu dan baluran metaforik yang cukup menyentuh, kadang terasa boros kata. Antara sosok si tokoh yang dilematis, bahkan sangat-sangat paranoid, dengan kekasihnya (yang berseru: “Maka kuambil urat-urat kaki dan tanganmu. Lumpuhlah. Berhentilah mencipta tragedi dalam hidup kami.”), dengan kawan-kawannya, yang diilustrasikan bahwa pada detik-detik kematian si tokoh karena kanker darah unsur dramatik begitu kental. Kesadaran alam lain dalam cerita Dadang itu menubuh dan menembusi ruang-waktu secara retrospektif yang ulang-alik: pada ungkapan di saat-saat si tokoh sebelum mati, setelah mati, dan aku lirik pencerita yang memungkasi di akhir cerita:
Kawan-kawan dan tetangga-tetangganya bersumpah ia tersenyum dan terlihat teramat bahagia ketika diketemukan meninggal dalam kamarnya yang pengap asap rokok dan sempit itu. Tak ada yang tahu apa yang menyebabkan ekspresi wajahnya seperti itu. Tak ada yang tahu bila segala yang pernah ia tulis, segala cerita yang pernah ia karang, segala tokoh-tokoh yang ia lahirkan, bergantian mnjenguknya. Dan ia tak lagi merasa berhutang pada apa-apa dalam cerita-cerita itu, pada tokoh-tokoh dalam cerita-cerita itu.

Adakah ini cerita yang disamarkan tentang peristiwa riil diri Dadang sendiri yang sebenarnya? Kemungkinan itu bisa benar, dengan kenyataan umum bahwa setiap karya merupakan cerminan diri pengarangnya, tentu saja, dengan kadar yang tak bisa diukur prosentasenya. Dalam kumpulan cerpen ini tema personal dengan berbagai sisikmelik  problematiknya lebih mengemuka ketimbang tema sosial.   
Walakhir, kelemahan-kelemahan juga rambahan estetik dalam menulis cerpen memang kompleks. Membuat cerita yang sederhana tapi berisi juga rumit, dan semua itu adalah bagaimana pandangan hidup dan sikap dalam proses kreatif itu tidak dihinggapi oleh hal-hal yang bersifat instant dan watak megalomaniak, misalnya ingin cepat dimuat media, tak mengindahkan revisi berkali-kali, menghindari mendiskusikan karya dengan teman terdekat, ingin cepat diantologikan jadi buku, mengejar target sayembara cerpen, watak manipulatif, miskin bacaan, ingin cepat terkenal, tak menghargai pendapat orang lain, malas riset (ini yang banyak diabaikan), dan bla-bla-bla yang kesemuanya itu adalah soal-soal lawas yang jadi penyakitnya penulis saat ini yang disadari atau tidak membuat karya-karya sastra kita mengalami kesumpekan. Dan sastra kita cuma jadi “sastra sepintas lalu”, “yang biasa-biasa saja” sebagaimana yang disitir Budi Darma dalam buku esai sastranya Solilokui.
Dan semoga sajalah, semua cerita yang telah selesai ditulis dan kini dibaca oleh siapa pun itu, mampu hidup dan memberi nyala api, bukan epidemi. Apakah itu yang kita doa-harapkan? Atau, biarin saja, semua cerita yang tertuliskan itu kuasa membunuh penulisnya setiap waktu, untuk kemudian bangkit lagi lalu membikin tularan-tularan cerita yang lebih-lebih sinting sinting lagi… (Rowahu Bukori Non Moslem)
Hahahahahuahuaahuahua…kok serius terus siiiiiih bersastranya! Ngopi-ngopi dan rokokan dulu aaaahhh!
Salam kreatif selalu...    

Catatan: esai ini akan dijadikan bahan diskusi dalam bedah kumpulan cerpen Tentang Kami Para Penghuni Sorter  pada 24 Desember 2011, di Mojosari, Mojokerto.
---------
*Fahrudin Nasrulloh, cerpenis, bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang

Sabtu, 26 November 2011

Teknologi Informasi: Antara Keinginan dan Kebutuhan


Teknologi Informasi: Antara Keinginan dan Kebutuhan[1]

Oleh : Jabbar Abdullah[2]

Sebelumnya, saya akan berkisah tentang warung kopi. Sepintas, Information Technology (IT) dan warung kopi memang tidak nyambung. Tapi bagi yang peka, warung kopi tanpa kita sadari merupakan tempat terjadinya sirkulasi teknologi informasi (TI), apapun bentuknya. Mulai dari babakan politik, ekonomi, sosial dan bahkan seni-budaya. Warung kopi tidak hanya menyediakan secangkir kopi, teh, pisang goreng dan sejenisnya. Warung kopi juga tempat mengaduk informasi yang disuguhkan dengan rupa-rupa teknologi. Warung kopi juga bisa menjadi tempat “menggoreng” ide atau gagasan. Intinya, setiap tempat berpotensi untuk kita jadikan sebagai media mengolah segala hal yang terkait dengan persoalan teknologi informasi.
Tak dipungkiri, setiap detik teknologi yang diciptakan manusia senantiasa berkembang dengan pesat. Produk teknologi pun bervariasi. Semua dicipta menyesuaikan kebutuhan hidup manusia. Namun, jika perkembangan teknologi tidak disikapi dengan tepat (baca: sesuai dengan fungsinya), maka akan terjadi disfungsi, bahkan bisa jadi akan menjadi senjata makan tuan. Disadari atau tidak, perkembangan teknologi ternyata berimbas pada terciptanya budaya instan (baca: siap saji) terkait dengan pemenuhan sebuah kebutuhan.
Jika kita menyikapi kebaruan teknologi dengan instan, maka bersiaplah untuk menjadi budak teknologi. Orang yang sudah menjadi budak teknologi akan terjangkit penyakit egois, individualis dan hedonistis. Agar tidak terserang ketiga penyakit tersebut, maka kita harus memperlakukan teknologi sebagaimana mestinya – meminjam istilahnya WS Rendra – agar kehidupan tetap berjalan berimbang dan wajar.
Dalam keseharian, kita tidak terlepas dari yang namanya peristiwa memberi dan menerima dengan segala bentuknya. Saat kita mengalami dua peristiwa ini, kita akan dihadapkan pada dua pilihan, yakni antara keinginan dan kebutuhan. Jika peristiwa tersebut terkait dengan informasi, maka informasi yang kita berikan atau kita terima tersebut selanjutnya mau disikapi dengan cara yang bagaimana. Jika kita memposisikan sebuah informasi hanya sebatas keinginan, maka sikap kita cenderung diam alias pokok’e eruh. Sebaliknya, jika kita menjadikan informasi tersebut sebagai sebuah kebutuhan, maka kita akan cenderung berupaya untuk bagaimana caranya agar informasi tersebut bisa dengan segera tersebar dan akhirnya diketahui oleh khalayak.
Terkait dengan memberi dan menerima informasi, kita harus pandai-pandai memilih dan memilah. Di sini kita juga harus punya pertimbangan tentang media dan kepada siapa kita harus berbagi informasi tersebut. Nah, di sinilah pentingnya kita membangun jejaring. Jika kita telah memiliki jejaring, maka kita tidak akan kesulitan dalam urusan memberi dan menerima informasi. Urusan membangun jejaring terkait erat dengan pengolahan data yang kita miliki. Jika kita tak memiliki jejaring, maka bisa dipastikan data berupa informasi tersebut akan mati, minimal – meminjam istilahnya Afrizal Malna – tidak berbunyi.
Data akan datang dari arah yang tidak pernah kita duga. Pertanyaan paling mendasar saat kita menerima atau memiliki data adalah, terus diapakno?
Memberi bunyi pada data yang kita miliki bukanlah persoalan mudah, meskipun medianya berlimpah. Adakalanya kita kebingungan saat memiliki data yang melimpah. Mau kita apakan data itu? Data itu mahal dan memiliki kekuatan yang besar. Karena itu tidak semua orang atau komunitas akan dengan mudah berbagi data. Kecerobohan dalam mengolah data akan berdampak langsung dengan bangunan jejaring kita. Data ibarat zakat. Di dalam data itu sendiri juga terdapat mustahiq, baik personal maupun kolektif, yang berhak menerima zakat data. Meskipun pada prinsipnya setiap orang memiliki hak atas apa yang kita miliki, namun orang lain tidak berhak memaksa kita untuk memberikan apa yang kita miliki. Semua dikembalikan pada kesadaran bahwa seseorang atau komunitas itu tidak bisa hidup sendiri. Untuk bisa berdiri di atas kakinya sendiri, seseorang atau komunitas membutuhkan kerjasama dengan yang lainnya.
Untuk urusan mengolah, tidak semua orang mampu melakoninya. Terlebih mengolah dan menghidupi (baca: memberi bunyi) pada data yang dimiliki. Di era yang serba “klik” dan “touch” ini, kita banyak ditawari pilihan-pilihan media yang bisa dimanfaatkan terkait dengan urusan memberi bunyi pada data. Media online, baik blog maupun website misalnya, menawarkan banyak sekali species teknologi yang kesemuanya bisa dijadikan sebagai ladang menanam dan membunyikan data. Ada Facebook, Twitter, Blogspot, Wordpress, Multiply, netlog, dan masih banyak lagi. Seluruh species teknologi tadi, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, memberi ruang bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya secara gratis. Yang terkini, sampai-sampai ada yang rela memberi fasilitas WiFi agar warungnya bisa menarik konsumen yang lebih banyak. Artinya, kalau kita memang serius menggeluti dunia IT maka pertanyaannya adalah sejauhmana kita mampu mengolah ruang dan mengolah data yang kita miliki?
Dari sekian banyak media, silahkan dipilih mana yang menurut kita lebih efektif untuk dimanfaatkan sebagai alat untuk membunyikan data. Apapun pilihannya, yang terpenting adalah kita harus mampu untuk istiqamah, baik dalam memberi maupun menerima. Upaya berbagi dan menerima data terkait erat dengan yang namanya updating, yakni upaya mencari kebaruan-kebaruan tentang data. Jika kita malas memperbarui data, maka kita akan ketinggalan kereta.
Kiranya cukup sekian uraian tentang urusan Information Technology (IT). Yang harus selalu kita ingat adalah, bahwa dalam urusan IT , musuh utama kita adalah kemalasan.
--------------

1) Makalah disampaikan dalam Pelatihan Teknologi Informasi, tanggal 26–27 November 2011, pukul 14.00–17.00 Wib.
2) Lurah Komunitas Lembah Pring Jombang 

Rabu, 01 Juni 2011

Federasi Teater Indonesia - SAYEMBARA NASKAH DRAMA NASIONAL FTI PELAJAR & MAHASISWA

Federasi Teater Indonesia
SAYEMBARA NASKAH DRAMA NASIONAL FTI PELAJAR & MAHASISWA

FTI berkehendak untuk menggairahkan kembali semangat menulis naskah drama, merangsang para penulis muda untuk juga bergiat di dalamnya, dan pada akhirnya meningkatkan perbendaharaan naskah Indonesia. Tidak tertutup pula harapan naskah-naskah baru tersebut dapat menjadi alternatif terutama bagi pertunjukan yang semakin dapat mewakili hidup dan persoalan-persoalan kemasyarakatan mutakhir kita.
Tema
Tema bebas, namun diharapkan yang “berakar” berkonteks dengan kekinian Indonesia.
Waktu Kegiatan
Pendaftaran dimulai awal Mei 2011, batas pengiriman terakhir tanggal 30 Juli 2011 ( cap pos).
Dewan juri:
Afrizal Malna (Satrawan),Nano Riantiarno (Teaterawan), Radhar Panca Dahana (Pembina Teater)
Tempat
Sekretariat FTI, Jl. Muchtaruddin 20 B Komplek PU Pasar Jumat Jakarta Selatan
121310 Indonesia, Telp. 021-8637 4965, Email : ftindonesi@yahoo.com
Hadiah
Pemenang Terbaik dari Terbaik : Rp. 10,000,000,-
plus tropi dan piagam penghargaan
Pemenang 5 naskah drama Terbaik : masing-masing mendapatkan
Rp. 5000,000,- plus tropi dan piagam penghargaan
Ketentuan Peserta:
1. Isi Naskah Tidak Menyinggung SARA
2. Pelajar dan mahasiswa Indonesia
3. Tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku
4. Jumlah HALAMAN NASKAH, MINIMAL 15 haL. Maksimal 40 hal. (Ukuran kertas A4, 2 Spasi, Arial), Berbahasa Indonesia.
5. Naskah dikirim dalam file digital (soft copy) 1 Buah dan 3 rangkap berjilid (hard copy) dengan melampirkan :
  • Photocopy Kartu Tanda Pelajar /Mahasiswa
  • Biodata Penulis
  • Surat pernyataan bahwa naskah yang dikirim adalah asli, belum pernah diterbitkan dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis, bermaterai 6000.
6. Naskah drama dikirim ke panitia dengan kode: SNPND FTI Pelajar/Mahasiswa 2011 ke sekretariat FTI.
____________