Sabtu, 15 Januari 2011

Makalah Geladak Sastra # 03

:: Menulis! :: *

Oleh : Bandung Mawardi**

Menulis bukan urusan ingin! Menulis itu menulis. Hukuman berat untuk orang-orang dengan “hantu-hantu ingin” adalah kebingungan, kelinglungan, kesakitan, dan kedukaan. Takdir penulis tidak sekadar merawat ingin dengan nafsu atau lesu. Tuturan tentang orang ingin menulis menjelma benih-benih kematian menjelang kehidupan. Kabar sorga aksara dan neraka aksara mungkin tak melewati jalan mereka. Makna tak mau mampir karena tak ada ruang tamu untuk perjamuan.

Menulis bukan urusan menata kata! Menulis itu kerja. Orang memerlukan untuk menempuhi jalan menulis dengan segala milik diri. Kemanjaan dan minimalitas diri justru membuat petaka. Menulis adalah keterlibatan mencekam dan melegakan dari proses keringat kata, geliat imajinasi, sekarat tubuh, dan lenguh iman. Kerja menulis mirip ibadah dalam keterlenaan ruang dan waktu.

Menulis bukan urusan tampil diri sebagai bacaan! Menulis itu membaca. Modal membaca tak bisa ditangguhkan atau diabaikan sebagai sekadar instrumen. Membaca mesti jadi jelmaan iman karena memberi terang. Urusan membaca adalah urusan melibatkan diri untuk merasai hadir dalam jagat kata dan resah memamah pernik-pernik makna dari segala penjuru. Membaca tidak membuat orang menguburkan diri tapi menyelamatkan jalan pembebasan dari jerat kedunguan dan dosa-dosa picisan.

Menulis bukan urusan menanti! Menulis itu tindakan melawan kutukan malas dan lupa. Intensitas mengurusi kata bakal membukakan lorong-lorong gelap untuk minta terang. Perjalanan tak mesti menggairahkan karena setan-setan menari dengan berahi kesesatan. Menulis menjadi urusan mencari dan menemukan. Menulis tidak mirip penantian kekasih dalam ketelanjangan diri. Menanti bisa menumbuhkan benih-benih kepasrahan dan siksa tanpa pengharapan. Anutan atas pilihan menanti tentu kisah sakit penulis. Rumah sakit susah menyembuhkan dan kuburan lekas membuka diri dalam senandung keputusasaan.


:: Tulisan? ::

Oleh : Bandung Mawardi


Tulisan memiliki jalan untuk menghuni lembaran koran, jurnal, buletin, majalah, atau buku. Jalan ini ramai karena orang-orang merasa memiliki hak untuk sampai. Tanda-tanda jalan tak bisa memastikan tulisan tersesat, tabrakan, mati kehausan, atau tertidur di selokan. Jalan besar itu sesak oleh doa, pengharapan, cacian, keluhan, dan protes. Tulisan bisa bergelimang dosa oleh kutukan-kutukan atau pengabaian. Tulisan pun menuai berkah saat pikat merasuki manusia-manusia pilihan dalam memberi putusan dilematis.

Penulis mungkin hidup dengan ambisi menghadirkan tulisan di koran, jurnal, buletin, majalah, atau buku melalui keajaiban. Ambisi ini bakal lengah dalam menolak kabar kematian. Ambisi bisa disemaikan dengan optimisme melalui kepekaan atas nasib tulisan untuk menempuh jalan menyapa pembaca. Kepekaan ada saat intimitas diri dengan tulisan dan media mencapai ruang dialog. Tulisan hadir karena transaksi dari sekian argumentasi internal dan eksternal. Transaksi itu alot. Model ini menjadi sasaran dari curiga dan luberan doa dari penulis.

Menulis dan mekanisme menemukan jalan ke media itu urusan sepele. Klaim sepele ini tidak merendahkan tapi memartabatkan diri penulis dalam gairah dan gerah. Kesepelean justru membuat orang kerap terlena dan mengentengkan ketimbang memikirkan dengan iman. Kesepelean memerlukan iman. Rumus mujarab untuk menulis dan menempuhi jalan media adalah iman. Iman ini mencakup kompleksitas otoritas dan kesadaran pelbagai instrumen dalam optimisme melahirkan tulisan dan merawat sebagai berkah untuk dunia.

---------------------

* Makalah ini disampaikan dalam Geladak Sastra #3 pada tanggal 16 Mei 2010 pukul 19.00 Wib

** Bandung Mawardi, Esais Kabut Institut Solo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar