Jumat, 14 Januari 2011

Makalah Bedah Antologi puisi “sajak kupu-kupu”

Proses Kreatif Itu Melahirkan Barisan Kupu-kupu*

Jr Dasamuka**


“bahwa untuk dapat memberi makna karya sastra, bahasa merupakan prioritas utama yang harus dikuasai ”  
-- A. Teeuw --

 Sebelum menyimak Antologi puisi “sajak kupu-kupu” karya mahasiswa program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang angkatan 2007;2010 ini, saya berusaha membayangkan seperti berada di pesantren, seperti bayangan saya ketika mendengar  Jombang Kota Beriman . Ketika saya masuk ke dalamnya ternyata saya tidak mendapati gambaran tentang pesantren seperti yang saya harapkan. Tapi buru-buru saya harus mencegah pikiran saya untuk “menyesal”, karena keinginan saya terlalu berlebihan dan begitu menghakimi. Bukankah penulis yang ada di Jombang belum tentu menulis tentang sastra pesantren, dan sastra pesantren juga belum tentu berasal dari Jombang.

Namun, saya melihat ada puisi-puisi berbentuk bangunan yang rasanya belum sempat dibangun sempurna tapi itu cukup membahagiakan. Semoga pembacaan ini hanya kecurigaan saya sebatas dan pembaca lainnya tidak. Setidaknya ketika melepas keinginan yang berlebihan, kesederhanaan dalam antologi sajak kupu-kupu ini bisa terbaca dan menjadi menarik.   

aku/
juga kau…/
adalah barisan kupu-kupu/
ketika sayap-sayapnya menjelma…./
bertebaran kesegala penjuru/
dan tertembak mati peluru mesiu//

Puisi berjudul sajak kupu-kupu tersebut diambil sebagai nama antologi ini. setelah membaca keseluruhan puisi, rasanya tepat jika judul tersebut dijadikan pengantar bagi pembaca untuk memasuki buku ini. Dari puisi tersebut saya khususnya (dituntun) menuju sebarisan kupu-kupu dengan berbagai sayap warna-warni, lalu sayap itu menjelma puisi dan bertebaran kesegala penjuru dengan segala bahasa kibasannya. saya jadi ingin berdo’a seperti yang mereka puisikan, tapi, semoga sajak dalam antologi ini tidak bernasib sama seperti kupu-kupu yang tertembak mati peluru mesiu –pada akhirnya-.  Sebagai seorang penulis puisi, kita bebas terbang kemana saja (seperti kupu-kupu), juga bebas menentukan apa saja untuk dijadikan objek tulisan. Tetapi sebagai puisi (karya sastra), nasibnya ditentukan oleh pembaca (masyarakat). Terkadang mereka seperti orang yang membawa tembak dan bubuk mesiu. bebas menembaki hasil karya kita(kritik).

Perlukah menulis puisi sampai berdarah-darah?
Dalam pengantarnya, buku ini adalah klimaks dari perjuangan yang berdarah-darah. Sesungguhnya hampir tiap puisi mengandung paradoks. Pada satu titik puisi mengusung kenyataan dan di titik yang lain mengandung reaksi terhadapnya (ada hal lain yang ditawarkan). Menjadi mudah jika hanya menuliskan kenyataan yang lazim namun, menjadi sangat susah jika harus menuliskan reaksi atas kenyataan tersebut. Dalam antologi “sajak kupu-kupu” ini, kebanyakan dari mereka mengusung kelaziman realitas yang ada dalam wilayah batin mereka. Meski beberapa berusaha mencoba memberikan reaksi atas realitas dengan bahasa puisi yang coba dibangunnya. Kalau boleh saya katakan, mereka menulis puisi untuk wilayah pribadi –sebagai tahap awalnya-

Persoalan kemudian muncul dialami oleh penyair, soal pertama adalah bagaimana menyampaikan apa yang dialami atau dirasakan penyair itu (dunia dalam) kepada pembaca (dunia luar). Karena dunia umum memiliki banyak variabel dan kemungkinan. Pada saat itulah penyair memerlukan bahasa. Sebagai penyair harus menguasai bahasa agar dapat memberikan makna kata dalam teks puisinya. Soal kedua adalah bagaimana memilih kata atau diksi yang sesuai(karena kata adalah roh puisi) ada pendapat klasik dan melegenda(saya lupa siapa yang menulisnya) bahwa inti puisi adalah kata-kata, bagaimana menata kata agar menjadi wadah yang tepat bagi imajinasi dan perenungan sehingga membentuk bahasa puisinya sendiri, dan soal-soal lain yang muncul berikutnya. Dalam tahap inilah menulis puisi menjadi terasa susah, puisi sebagai respon atas kepekaan penyair dalam membaca objek yang ada disekitarnya atau kenyataan yang dialaminya.

Kepekaan itu tidak datang dengan sendirinya tapi membutuhkan proses yang panjang. Namun, akan menjadi mudah jika hanya menuliskan apa yang dirasakan dengan kata-kata indah saja tanpa memikirkan adanya reaksi atas apa yang terjadi. Ruang terbatas pada puisi, membuat kata-kata yang dibangun mempunyai beban untuk menyampaikan pengertian atau makna. seperti yang ditulis oleh Tjahjono Widijanto  dalam epilog untuk kumpulan sajak salam mempelai Tengsoe Tjahjono “bagi penyair mengolah kata adalah pengembaraan tanpa akhir”. Ruang terbatas itu membuat kita menjadi pengembara dalam bait dan baris.

Seorang penyair tidak secara tiba-tiba menulis puisi, meski momen menulisnya bisa tiba-tiba datang begitu saja. Banyak fase dan pertanyaan yang harus dijawabnya sendiri, sebelum berhadapan dengan pena dan kertas atau keyboard dan monitor. Keutuhan bangunan teks puitik hanya akan terjadi jika struktur pembangun puisi yang digunakan sudah dalam proporsi  yang tepat (kata) sebagai wujud dari kematangan berbahasa penyairnya.

Stuktur karya sastra (puisi) seperti bahasa, fantasi, plot, realitas, pengalaman dsb, harus disajikan secara utuh dan tidak bertentangan dengan logika. Setidaknya logika sangat penting karena puisi harus bisa dipertanggung jawabkan, minimal logika yang dibangun.  Dianggap penting karena pembaca selalu menuntut penyair agar karyanya yang imajinatif sesuai dengan realitas kehidupan. Karena penyair bukan sekedar penulis tapi juga pembangun. Dalam hal ini karya sastra yang dihasilkan memiliki nilai sejarah. Dalam catatan kecil perjalanannya, Timur Budi Raja menuliskan “sebuah karya kreatif (seni) dapat disajikan kepada publik pada saat karya tersebut telah matang karena perjalanan proses penciptaannya. Demikian pula karya sastra (baca: puisi) yang lahir memiliki nilai kesejarahan”. Senada dengan  Octavio Paz, ia pernah menulis “tiada puisi tanpa sejarah, tapi puisi tidak bisa memiliki misi lain kecuali mengubahnya”. Kawan saya yang lain Fahrudin Nasrulloh pernah bercerita tentang beberapa karyanya yang harus dibuang, diotak-atik lagi, setelah beberapa lama ia simpan dan ia tulis. 

Proses perjalanan panjang dalam menerbitkan buku antologi “sajak kupu-kupu”, menunjukkan bahwa para penulisnya membutuhkan proses kreatif dalam kepenulisan. Sebagian berhasil menjadi karya yang utuh dan sebagian lagi membutuhkan proses yang lebih panjang karena dianggap “gagal” dalam tanda kutip. Kegagalan pertama yang dialami oleh penyair dalam membangun bahasa, menghadirkan realitas tertentu dan gagasannya. Dalam menyampaikan gagasan kedalam karyanya, antara penyair yang satu dengan yang lain menggunakan gaya bahasa yang berbeda. Hal ini tidak lepas dari pribadi itu sendiri yang mempengaruhinya. Dalam buku ini semua akan sepakat jika keragaman bahasa penulisan mereka berbeda-beda.

Karya sastra yang dihasilkan selebihnya berada ditangan pembaca, karya yang terdapat dalam antologi ini akan membuktikan apakah masing-masing karya itu berbobot atau tidak, perlu dibaca atau sebaliknya. Ataukah mati tertembus peluru dalam perjalanannya.

Setidaknya lagi, sajak kupu-kupu (antologi puisi angkatan 2007;2010) ini akan menjadi sejarah tersendiri bagi proses penulisan kreatif penyair-penyair baru yang ada di STKIP PGRI Jombang, menjadi jalan bagi penyair-penyair baru dalam perjalanannya menjadi penyair besar nantinya, menjadi dokumentasi karya sastra Jombang seperti buku-buku pendahulunya Jagad berkata-kata (antologi puisi angkatan 2006;2009), sebelum surga terbakar (antologi puisi angkatan 2005;2008).
SEMOGA……

------------ 
*  Makalah ini disampaikan pada acara bedah buku “sajak kupu-kupu” STKIP PGRI Jombang, tanggal 29 Desember 2010
**    Penyair. Berproses di Pondok Kopi Komunitas Sastra Mojokerto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar