Rabu, 12 Januari 2011

Gairah Sastra Dan Kepenulisan Di Pesantren

Gairah Sastra Dan Kepenulisan Di Pesantren

Oleh: Siti Sa’adah*

Kira-kira bagaimana jika semua buku bacaan –khususnya sastra- dideraskan alirnya ke dalam pesantren untuk dilahap para santri?! Ah, pastilah kegiatan belajar dan mengaji mereka terganggu. Santri lebih memilih menikmati atau berfantasi dengan sebuah novel dari pada melalar hapalan, bisa jadi akhlak mereka tercerabut dari norma kesantunan yang ditekankan dalam pesantren karena terlalu banyak mengecap berbagai macam buku yang mampu mencuatkan pemikiran mereka. Itu ketakutan yang bisa saja muncul jika para santri diberi akses semua jenis bacaan buku, tidak hanya tentang keagamaan.

Saya jadi teringat kisah di novel atau film Perempuan berkalung Sorban, seorang Ning yang ‘menyelundupkan’ buku-buku sastra ke dalam pondok keluarganya karena pasti dilarang jika dilakukan secara terang-terangan. Ya, pada ghalibnya, akses buku di pesantren memang dibatasi apalagi untuk buku karya sastra berupa novel, kumpulan cerpen atau puisi, jangan harap santri bisa leluasa membacanya. Karena ‘orang-orang tertentu’ di pesantren menyetempel itu adalah buku yang tidak ada manfaatnya, hanya mengganggu santri dalam belajar.

Untuk sekolah di lingkungan pesantren dengan pembatasan semacam ini, bisa menghambat apresiasi karya sastra. Karena kemampuan untuk membaca karya sastra saja sudah dibendung, bagaimana bisa mereka mengais keindahan serta menuai hikmah atau pelajaran semisal refleksi diri dari karya sastra yang merupakan karya seni bahkan untuk sekedar mengomentari!

Pasti akan sangat berbeda dengan pondok yang memberi keleluasan serta ada usaha dari pihak terkait, seperti di ponpes Darul Falah Jeruk Macan Jetis Mojokerto asuhan Gus Chamim Kohari. Membaca buku sastra tidak dilarang, malah dianjurkan dan ada bimbingan menulis dan mengapresiasi karya sastra sampai bisa menelurkan seorang Mas Hikmatul Azimah yang menjuarai Cipta Puisi Kandungan Al-Qur’an Pospenas 2010 pada 5-11 Juli 2010. (Radar Mojokerto, 16 Agustus 2010). Saya pernah menyaksikan Gus Chamim membawa sejumlah santri putra dan putrinya di acara diskusi Membaca Geliat Sastra Jombang yang digelar Lembah Pring pada 21 April 2009 sampai larut malam. Begitu semangatnya seorang kiai mengakrabkan santrinya dengan sastra.

Adapula Gus Sholah, pengasuh ponpes Tebuireng, dalam esainya “Bangga Berbahasa Indonesia” (Jawa Pos, 28 Oktober 2010) mengungkapkan “....saya mendorong upaya menumbuhkan minat baca dan memaksa siswa di Pesantren Tebuireng untuk bisa menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dengan mewajibkan siswa membaca buku-buku cerita atau lainnya (dua minggu membaca satu buku) lalu membuat ringkasan tertulis dari apa yang dibaca....”.

Atau MAN Genukwatu Ngoro, sekolah yang berada di lingkungan pesantren ini mempunyai Abdulloh Faqih yang membina dan membeli buku-buku karya sastra yang kemudian disimpan di perpustakaan sekolah untuk dipinjam para siswa, serta usahanya yang membanggakan pihak sekolah dengan menerbitkan Fatihah Cinta karya Amie El Faraby. Tidak jarang karya anak didiknya mangkring di rubrik Curhat dan Ransel Radar Mojokerto.

Ada lagi Lutfi Hakim di MTsN Darul Ulum Peterongan yang sabar membina dan merangsang semangat menulis setiap hari Rabu dengan cara membukukan tulisan siswa setiap minggunya. Setiap minggu mencetak buku sebanyak tiga eksemplar: satu untuk perpustakaan sekolah, satu untuk siswa diberikan secara bergilir, dan satu lagi untuk pembina. Cara ini cukup memicu semangat siswa untuk menulis, karena karya mereka dibukukan, meski masih stensilan. Buku-buku itu adalah Seribu Ide dari Bilik Pesantren 1-4, Untaian Mutiara Bunda dan Sajak Cinta Buat Guruku.

Usaha-usaha di atas merupakan bentuk kepedulian kiai dan guru dalam mengeksplorasi kreatifitas berkarya serta memberi teladan dengan menulis pula. Setidaknya memberi ruang gerak santri untuk berkarya. Sungguh pesantren menyimpan gelegak kreatifitas yang bisa diledakkan santri-santrinya. Pergumulan sehari-hari antar santri dari berbagai macam daerah bisa mengasah kreatifitas untuk dikembangkan. Tidak jarang ada santri yang menulis cerpen, novel atau puisi di buku tulis kemudian dibaca secara bergilir oleh santri lain, berkutat di dalam pondok, dipinjamkan layaknya buku di perpustakaan. Bahkan dalam Kompetisi Cipta Cerpen Bulan Bahasa 2010 yang dihelat HMP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang, separuh dari naskah yang masuk adalah karya dari pesantren, dan tiga dari enam cerpen terbaik adalah karya mereka, yaitu: Lonceng Tua karya Niken Larasati (STIE PGRI Dewantara Jombang); Kereta Api Matamarja: Cerita Panjang di Sebuah Kereta karya M. Musa Al-Hasyim (MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng); Kutemukan Kau di Multazam karya Fathurrohman Karyadi (Ma’had Aly Tebuireng); Senja Terakhir karya Novy Sukmawati (Universitas Terbuka Jombang); Gadis Politik karya Imroatus Sholikah (SMK Sultan Agung 2 Tebuireng); serta Siapa yang Menghamili Lastri karya Esti Vita N. (MA Wahab Hasbulloh Tambak Beras). Dari sini tampak pesantren memiliki potensi yang besar dalam kepenulisan.

Adapula santri kreatif yang membentuk komunitas kepenulisan, seperti KOMA di ponpes Bahrul ‘Ulum Tambakberas. Komunitas ini lahir dari cangkrukan di warung kopi. Kemudian berkembang menjadi organisasi di pesantren yang melibatkan santri putra dan putri.

Memang cukup dilematis, di satu sisi betapa pentingnya membaca bagi santri, tidak hanya kitab kuning yang dikaji, namun di sisi lain jika semua jenis buku diizinkan untuk dikonsumsi santri pihak pengurus atau pengasuh kesulitan mengontrol belajar santri. Setiap pondok memiliki peraturan yang harus dijalankan demi keberlangsungan pendidikan yang digalakkan.

Sastra Pesantren

Dian Sukarno dengan tulisannya “Merindukan Sastra Pesantren” di Serambi Budaya, 7 November 2010 lalu, menuturkan sastra pesantren adalah karya sastra yang bersinggungan dengan tema maupun pelaku pesantren, dengan tema apapun selama yang menulis adalah kiai atau santri, maka bisa disebut sastra pesantren. Atau penulis di luar pesantren namun obyek tulisannya tentang segala hal yang berbau pesantren.

Mengenai hal ini, pernah digelar diskusi Melacak Jejak Sastra Pesantren pada tanggal 1 Oktober 2009 di Aula kantor PCNU Jombang dengan pembicara Fahmi Faqih, Fahrudin Nasrulloh, Nurel Javissyarqi, serta Hilmi As’ad. Saat itu banyak wacana dan pendapat yang melantai baik dari pembicara maupun peserta diskusi. Fahmi melontarkan pertanyaan pesantren yang tidak bisa lepas dari ketauhidan, apakah bisa disebut sastra pesantren kalau penulis adalah mantan santri dimana yang diusung di luar mainstream dunia pesantren tanpa mengusung nilai tauhid? Atau Rego Ilalang, penyair dari Nganjuk, yang khawatir diskusi terjebak pada pengertian sastra pesantren dilihat dari karyanya atau siapa penulisnya. Padahal di pesantren santri tidak diajarkan menulis melainkan membaca. Ada pula yang berpendapat ramaikan dulu pesantren dengan karya, yang positif dan negatif dimasukkan saja, biarkan terus berjalan, nanti juga akan menemui nasibnya, tinggal siapa saja yang kuat bertahan. Ada pula usulan perlu dibentuk kantung-kantung di pesantren, membentuk forum, tiga orang pun jadi. Sampai Gus Chamim yang berseloroh adakah ‘nobel’ dari NU untuk penulis di pesantren untuk memacu dan mengapresiasi karya mereka?!

Media dan Penerbitan di Pesantren

Pentingnya media di pesantren untuk menampung karya-karya santri, bisa berupa buletin, majalah, website bahkan penerbitan. Semisal di Jombang, penerbit Pustaka Tebuireng di ponpes Tebuireng yang telah menerbitkan banyak buku karya santri dan ustadz disana. Bisa dibandingkan pesantren yang belum mempunyai penerbitan, karya santri yang ada bisa terhambat penerbitannya karena terkendala biaya yang berat jika ditanggung secara individu. Hal ini bisa dikarenakan akses ke penerbitan yang masih sempit. Namun, dengan keberanian dan modal cukup santri bisa saja mencetak buku karyanya secara stensilan, seperti Mutiara Indah dari Paculgowang yang ditulis oleh Bustanul Arifin, merupakan kumpulan mauidloh Kiai Abdul Aziz Mansoer yang disampaikan dalam kuliah shubuh setiap Jum’at Legi. Ketiadaan media di pesantren tidak bisa menjadi alasan untuk tidak berkarya. Toh media masa sudah melimpah untuk ditembus. Pesantren memang memiliki misteri dan semangat tersendiri, begitu banyak bahan untuk diabadikan dalam tulisan dari sana. Butuh kesadaran, kemauan, serta keberanian untuk mengurainya.

***

Siti Sa’adah, lahir 12 Juli 1987, di Jombang. Pendidikannya di mulai dari MI Tarbiyatunnasyiin, MTsN, dan Madrasah Aliyah Al-Anwar, Paculguwang (lulus 2005), Jombang. Diploma I di Medika Wiyata Jombang (lulus 2006). Pernah 2 tahun bekerja di sebuah apotek di Jombang. Kini ia mengajar dan menjadi anggota HMP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang. Bergiat di komunitas PSK (Penggila Sastra Kopi) Jombang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar